Kilang Minyak. (Foto: Ilustrasi/Ist)

Jakarta, Aktual.com – Harga minyak naik di perdagangan Asia pada Jumat (25/11) sore, meskipun likuiditas pasar tipis setelah seminggu ditandai oleh kekhawatiran tentang permintaan China dan tawar-menawar atas batas harga Barat pada minyak Rusia.

Harga minyak mentah berjangka Brent terangkat 41 sen atau 0,48 persen, menjadi diperdagangkan di 85,75 dolar AS per barel pada pukul 07.30 GMT.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 57 sen atau 0,73 persen, dari penutupan Rabu (23/11/2022) menjadi 78,51 dolar AS per barel. Tidak ada penyelesaian WTI pada Kamis (24/11) karena liburan Thanksgiving AS.

Kedua kontrak acuan masih menuju penurunan mingguan ketiga berturut-turut, di jalur penurunan sekitar 2,0 persen atau lebih dengan kekhawatiran tentang pengurangan pasokan yang ketat.

Likuiditas yang tipis, kekhawatiran seputar permintaan China dan latar belakang menilai seberapa parah resesi, menjadi pendorong harga utama sejauh ini, kata Kepala Analis APAC di Energy Aspects, Virendra Chauhan.

Ada tanda-tanda yang berkembang bahwa lonjakan kasus COVID-19 di China, importir minyak utama dunia, mulai menekan permintaan bahan bakar, dengan lalu lintas menurun dan menyiratkan permintaan minyak sekitar 13 juta barel per hari, atau 1 juta barel per hari lebih rendah dari rata-rata, catatan ANZ menunjukkan.

China pada Jumat melaporkan rekor harian baru untuk infeksi COVID-19, karena kota-kota di seluruh negeri terus memberlakukan langkah-langkah mobilitas dan pembatasan lainnya untuk mengendalikan wabah.

Kebangkitan kasus COVID di China tetap menjadi faktor bearish utama yang mempengaruhi harga minyak dari perspektif permintaan, kata Analis Pasar CMC, Tina Teng.

Mengenai batas harga minyak Rusia, para diplomat G7 dan Uni Eropa telah mendiskusikan level antara 65 dolar AS dan 70 dolar AS per barel, dengan tujuan membatasi pendapatan untuk mendanai serangan militer Moskow di Ukraina tanpa mengganggu pasar minyak global.

“Pasar menganggap (batas harga) terlalu tinggi yang mengurangi risiko pembalasan Moskow,” kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan kepada klien.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Moskow tidak akan memasok minyak dan gas ke negara mana pun yang bergabung dalam memberlakukan batas harga, yang diulangi Kremlin pada Kamis (24/11).

Perdagangan diperkirakan akan tetap berhati-hati menjelang kesepakatan batas harga, yang akan mulai berlaku pada 5 Desember ketika larangan Uni Eropa terhadap minyak mentah Rusia dimulai, dan menjelang pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, dikenal sebagai OPEC+, pada 4 Desember.

Pada Oktober, OPEC+ setuju untuk mengurangi target produksinya sebesar 2 juta barel per hari hingga tahun 2023, dan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan minggu ini bahwa OPEC+ siap untuk memangkas produksi lebih lanjut jika diperlukan.

(Arie Saputra)