Jakarta, aktual.com – Harga minyak sedikit melemah di perdagangan Asia pada Senin (15/7) pagi, terseret ekspektasi China, importir minyak mentah terbesar dunia, akan mencatat laju pertumbuhan ekonomi paling lambat dalam setidaknya 27 tahun seiring perang dagang China-Amerika Serikat.

Minyak mentah berjangka Brent untuk penyerahan September turun 6 sen menjadi diperdagangkan di 66,66 dolar AS per barel pada pukul 00.22 GMT (07.22 WIB).

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Agustus turun 5 sen menjadi diperdagangkan di 60,16 dolar AS per barel.

Kedua kontrak pekan lalu membukukan kenaikan mingguan terbesar dalam tiga minggu terakhir.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan China pada Senin akan melaporkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 6,2 persen pada kuartal April-Juni dari setahun sebelumnya, laju paling lambat sejak kuartal pertama 1992, data triwulanan paling awal mencatat.

Beijing dapat meningkatkan langkah-langkah dukungan yang mungkin positif untuk permintaan minyak, tetapi analis mengatakan ruang untuk stimulus agresif dibatasi oleh kekhawatiran bertambahnya tingkat utang yang sudah tinggi dan risiko-risiko struktural.

Harga minyak tetap didukung oleh produksi minyak Amerika Serikat yang lebih rendah setelah badai tropis memangkas produksi minyak mentah Teluk Meksiko sebesar 73 persen atau 1,38 juta barel per hari.

Namun demikian, kilang-kilang di jalur Badai Tropis Barry terus beroperasi meskipun ada ancaman banjir.

Ant.

(Zaenal Arifin)