Jakarta, Aktual.com – Diversifikasi pangan dinilai belum efektif menekan harga bahan pangan pokok di pasar, meskipun produksi nasional terus meningkat dan cadangan pemerintah berada pada level aman. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha menilai perlunya kebijakan insentif agar komoditas alternatif, seperti sorgum, dapat berperan nyata dalam menjaga stabilitas harga.
Direktur Utama PT Berkah Inti Daya, Eri Prabowo, mengatakan upaya diversifikasi berbasis sorgum pernah dilakukan perusahaannya, namun belum mampu menembus pasar secara berkelanjutan. “Kami sempat mengembangkan sorgum menjadi beras, tetapi secara pasar belum diterima sehingga secara bisnis tidak berlanjut,” ujarnya saat ditemui di COREsight Hub, Jakarta Selatan, Selasa (20/1/2026).
Menurut Eri, kendala utama bukan pada aspek budidaya, melainkan pada tingginya biaya pengolahan pascapanen yang membuat harga jual tidak kompetitif. Tanpa dukungan teknologi dan skala produksi yang besar, sorgum dinilai sulit menjadi substitusi beras dalam jangka pendek.
Meski demikian, ia menilai sorgum memiliki keunggulan ekonomi karena dapat tumbuh di lahan marginal dan memiliki masa panen yang lebih singkat dibandingkan padi. Dengan karakter tersebut, sorgum dinilai berpotensi menjadi bantalan pangan sekaligus sumber energi, terutama di wilayah rawan kekeringan dan bencana.
“Sorgum bisa menjadi game changer jika didukung kebijakan yang tepat, karena satu tanaman dapat menghasilkan pangan, biomassa, pakan, dan benih,” ujar Eri.
Pandangan pelaku usaha tersebut sejalan dengan catatan pemerintah yang menilai diversifikasi pangan masih menghadapi tantangan struktural, khususnya terkait harga dan kesinambungan pasokan. Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), Sugeng Harmono, menyebut pangan lokal kerap kalah bersaing karena belum mendapat intervensi kebijakan yang memadai.
Sugeng menjelaskan tanpa insentif di sisi produksi dan distribusi, komoditas pangan alternatif cenderung lebih mahal di tingkat konsumen. “Pangan lokal potensinya besar, tetapi tantangannya ada pada harga, kontinuitas pasokan, dan teknologi. Karena itu, diperlukan dukungan negara,” ucapnya.
Ia menambahkan pemerintah tengah mengoordinasikan kebijakan lintas kementerian untuk mendorong diversifikasi pangan agar tidak berhenti pada tataran wacana. Menurutnya, sorgum dan komoditas lokal lainnya baru dapat berkontribusi terhadap stabilisasi harga apabila didorong secara konsisten dari hulu hingga hilir.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















