Pengunjung yang akan menyaksikan proses gerhana matahari total, berfoto dengan latar Candi Gumpung di Kompleks Percandian Muaro Jambi, Jambi, Rabu (9/3). Ribuan warga dari sejumlah daerah di Provinsi Jambi memadati kompleks percandian peninggalan Kerajaan Melayu Kuno masa Hindu-Buddha abad 7-13 Masehi guna menyaksikan secara langsung fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) yang melintasi daerah itu. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/ama/16.

Denpasar, Aktual.com — Walaupun tengah merayakan Nyepi, namun hal itu tak menyurutkan niat warga Bali menyaksikan gerhana matahari total (GMT) yang terjadi pada Rabu (09/03) pagi.

Ibadah Nyepi kali ini terasa spesial bagi umat Hindu Bali. Fenomena alam menandai pergantian Tahun Baru Saka 1938. Di Bali, gerhana matahari terlihat mulai pukul 07.30 WITA. Cukup lama warga Bali mendapatkan fenomena alam yang terjadi 350 tahun sekali itu.

Sekitar pukul 08.30 WITA, gerhana matahari total begitu sempurna di Bali. Memang Bali tak bisa melihat secara total perubahan gerhana tersebut, hanya sekitar 80 persen saja.

Namun, hal itu tak menyurutkan niat masyarakat untuk menyaksikan fenomena alam langka itu. Cikal bersama ibunya nampak senang menyaksikan gerhana matahari.

“Seru. Kata Bunda gerhana matahari total bisa dilihat 350 tahun lagi nantinya,” kata bocah berusia 8 tahun tersebut.

Meski menggunakan alat sederhana dan seadanya, namun hal itu cukup membantu dia melihat posisi sejajar antara Matahari, Bulan dan Bumi tersebut.

“Alatnya dibikinin Bunda,” ucap bocah kelas 2 SD itu.

Di tempat lain, warga tak kalah antusias. Di sekitaran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanglah Denpasar, sejumlah penunggu pasien terlihat pergi ke pelataran menyaksikan gerhana matahari. Mereka beruntung dapat menyaksikan gerhana matahari di tengah perayaan Nyepi.

“Beruntung bisa menyaksikan gerhana matahari. Tidak tahu kapan lagi bisa lihat,” kata Alit.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali memaparkan, kalau hanya untuk melihat gerhana matahari, umat Hindu dipersilakan melihatnya dari halaman rumah masing-masing.

“Kalau bisa lihat gerhana dari halaman rumah masing-masing, silakan saja. Itu pun kalau bisa. Tetapi kalau tidak bisa, maka silakan berdiam diri di rumah masing-masing sambil menjaga suasana catur brata penyepian,” ujar ia di Denpasar.

Artikel ini ditulis oleh: