Jakarta, Aktual.co — Kebijakan ekonomi pada awal pemerintahan Jokowi telah menjurus ke arah neoliberal. Jokowi seolah tengah membangun sistem liberalisasi pengelolaan energi salah satunya melepas tata niaga migas ke mekanisme pasar.
“Jika bertemu dengan modal asing, lama-lama kita hanya dapat uang sewa tanah dan upah buruh saja, kita tidak menerima untung,”  ungkap Hariman Siregar, aktivis Malari, Sukabumi, Kamis (15/1).
Hariman menyatakan bahwa utang negara kita akan semakin bertambah, jika pengelolaannya di lepas ke pasar modal asing bukan mengurangi.
Hariman juga menentang upaya liberalisasi dengan semakin banyaknya modal asing yang ditanam di Indonesia.
“Kita menentang liberalisasi karena seharusnya asing tidak boleh lebih dari 50 persen dari proyeksinya, pribumilah yang harus dapat keuntungan lebih dari 50 persen,” katanya.
Hariman menghimbau jangan sampai kedepannya modal asing menguasai sistem ekonomi negara.
“Modal asing itu kuat, perlu proteksi terhadap itu,” demikian Hariman.

Artikel ini ditulis oleh: