Jakarta, Aktual.com – “Sampai-sampai saya tak bisa tidur semalam karena terus memikirkan segala kemungkinan yang terjadi dalam acara pagi ini,” tulis Karen Hsu dalam FB Messenger-nya, Minggu (24/5/2020).

Direktur Global Workers’ Organization (GWO) Taiwan itu pantas gelisah karena harus bertanggung jawab atas pengumpulan orang asing dalam jumlah besar di tengah pandemi global.

Melalui mantan wartawati media terkemuka di Taiwan itulah Pemerintah Kota Taipei mengizinkan ribuan warga negara Indonesia menunaikan shalat Idul Fitri di taman terbuka di kawasan Taipei Main Station (TMS).

Bukan lantaran non-Muslim sehingga Karen dalam menjalankan amanat itu harus menggandeng Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan yang kenyang pengalaman merawat umat Islam dari kalangan pekerja migran asal Indonesia (PMI) di Bumi Formosa tersebut.

Kedekatan emosional dan rasa saling percaya yang terpateri sejak 2015 menjadikan GWO yang notabene lembaga nonpemerintahan Taiwan menganggap PCINU yang mendapatkan legalitas resmi dari pemerintah setempat sejak 2018 itu sebagai mitra terpentingnya dalam berbagai kegiatan sosial karena yang satu fokus pada pemberdayaan tenaga kerja asing, sedangkan satunya lagi pada kemaslahatan umat.

Karen, warga Taiwan yang telah mengunjungi berbagai daerah di Indonesia untuk program pemberdayaan purnakerja migran itu, sempat tidak percaya saat menerima surat izin penyelenggaraan shalat Id khusus WNI dari Pemkot Taipei lantaran masih dalam situasi pandemi.

Di Taiwan jumlah WNI mencapai angka 290.000 yang mayoritas pekerja migran sektor formal dan nonformal. Bukan hal aneh kalau setiap acara bagi WNI di Taiwan selalu dipadati ribuan orang, apalagi kalau digelar pada hari Minggu seperti shalat Idul Fitri tahun ini.

Para PMI berasumsi, jika sudah ada surat izin penyelenggaraan kegiatan dari pemerintah setempat, maka tidak ada alasan bagi majikan melarangnya menghadiri kegiatan di luar rumah dalam situasi dan risiko apa pun.

Awalnya PCINU sempat ragu juga mendapatkan amanat melalui GWO itu, apalagi Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei sebagai satu-satunya perwakilan pemerintah RI di Taiwan tidak kunjung memberikan “lampu hijau”.

Bahkan surat undangan dari PCINU kepada pimpinan lembaga tersebut juga tidak mendapatkan respons. Padahal dalam setiap gelaran dan hajatan shalat Id, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, KDEI menjadi penyokong utamanya.

Hal itu sangat bisa dimaklumi lantaran beberapa perwakilan pemerintah RI lainnya, seperti di Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Hong Kong jauh-jauh hari sudah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai tidak diadakannya shalat Idul Fitri bagi kaum diaspora Indonesia pada tahun ini karena pandemi masih melanda.

Namun sangat naif jika gelaran shalat Id oleh sejumlah komunitas PMI di berbagai kota di Taiwan, termasuk di Taipei pada Minggu pagi itu dinilai sebagai bentuk pembangkangan.

Terlebih setelah GWO-PCINU telah mengantongi surat izin resmi dari Pemerintah Kota Taipei untuk menggunakan fasilitas publik berupa ruang terbuka di kawasan TMS yang dikenal sebagai tempat favorit bagi para PMI di Taiwan dalam mengisi waktu libur kerja dengan kongkow-kongkow di sejumlah warung khas Nusantara atau kegiatan lain.

“Tentu kami harus menerima amanat ini dengan penuh tanggung jawab, termasuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat agar semuanya berjalan lancar dan tidak menimbulkan persoalan baru,” ujar Karen.

Membeludak

PCINU yang jajaran kepengurusannya sudah berpengalaman menggelar berbagai kegiatan akbar sebenarnya tidak punya cukup waktu untuk mempersiapkan shalat Id pada Minggu pagi itu.

“Ini situasinya sangat berbeda,” kata Rais Syuriah PCINU Taiwan Agus Susanto.

Meskipun sudah belasan tahun terlibat dalam kepanitiaan shalat Id di TMS, bagi anggota Satgas Pemberdayaan PMI Taiwan itu menyelenggarakan ritual massal serupa pada tahun ini sangat unik, menantang, dan penuh risiko.

“Terus terang kami tidak punya pengalaman menggelar shalat Id dalam situasi seperti ini,” ujar Agus yang malam sebelumnya hanya tidur satu jam karena sibuk mengurus berbagai persiapan di lapangan sejak Sabtu (23/5/2020) sore.

Wajar jika terbersit niat menolak amanat tersebut, apalagi melihat sikap pasif KDEI.

Antusiasme para PMI yang telah lama terbelenggu rindu siraman rohani disertai kuatnya iktikad GWO membuat kepercayaan diri jajaran PCINU kembali bangkit sehingga bersedia menerima amanat sekaligus tantangan itu.

Terbatasnya ruang dan waktu untuk membahas berbagai persiapan gelaran akbar tersebut bukan kendala utama karena PCINU sudah terbiasa menggelar pengajian secara daring dengan menggunakan platform Line sejak bertahun-tahun yang lalu.

Line kembali menjadi media terpenting dalam mengoordinasikan segala bentuk persiapan shalat Id.

Tidak ada toleransi apa pun dalam menjalankan protokol kesehatan menjadi kata-kata kunci suksesnya penyelenggaraan tersebut.

Seluruh kekuatan PCINU Taiwan, seperti Banser dan Pagar Nusa dikerahkan. Persaudaraan Setia Hati Terate, perguruan pencak silat yang juga punya banyak anggota, turut dilibatkan.

Protokol kesehatan itu, mulai dari pemeriksaan suhu tubuh dengan menggunakan termometer inframerah, penggunaan disinfektan, pemakaian masker, dan pengaturan sof antarmakmum berjarak 1 meter, diberlakukan secara ketat.

Namun PCINU sebagai operator pelaksana kegiatan mengkreasikan aturan tersebut dengan mewajibkan cap jempol warna biru bagi setiap orang yang lolos pemeriksaan awal sebelum memasuki area ibadah di bawah tenda berpagar pita.

“Kalau warna merah di sini banyak yang punya, itu warna stempel resmi pemerintah sini,” alasan Agus mengenai dipilihnya cap jempol warna biru itu.

GWO juga memberikan supervisi berupa pembatasan jumlah jamaah di setiap gelombang, maksimal 500 orang.

Rapinya kerja sama dan koordinasi GWO-PCINU di lapangan menjadi pembeda yang sangat kontras antara shalat Idul Fitri tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya yang setiap gelombang bisa diikuti sedikitnya 1.500 orang hingga jumlah tak terbatas sampai-sampai petugas kepolisian setempat dibuat kewalahan.

Durasi shalat dan dua khotbah pun diperpendek menjadi hanya 15 menit per gelombang.

Rencana semula, penyelenggaraan shalat Id yang dimulai pada pukul 06.30 waktu setempat (05.30 WIB) itu hanya berlangsung dalam lima gelombang.

Namun pihak panitia memberikan toleransi berupa satu gelombang tambahan seiring dengan meningkatnya arus kedatangan PMI ke areal taman yang dulunya terminal bus itu.

“Saat gelombang kelima usai, kami sudah siap menutup kegiatan shalat Id ini. Namun setelah berbicara dengan Karen, kami izinkan satu gelombang lagi. Kami mohon maaf kepada PMI yang lain yang belum sempat menjalankan shalat,” kata Ketua Tanfidziyah PCINU Taiwan Arief Yudi.

Memang saat gelombang keenam ditutup pada pukul 09.00 waktu setempat, masih ada ratusan PMI lainnya yang antre namun harus kecewa.

Kalau setiap gelombang diikuti sekitar 500 orang, maka dikalikan enam menjadi 3.000 orang. Sebuah fenomena pengumpulan massa di tempat terbuka yang sangat fantastis di tengah pandemi.

Keberhasilan dalam menyelenggarakan shalat Id tersebut akan menjadi catatan positif bagi PCINU dan majelis taklim komunitas PMI lainnya di Taiwan yang selama empat bulan terakhir tidak dapat izin menggelar takbir akbar rutin dengan menghadirkan sejumlah mubalig dari Indonesia.

Keberhasilan itu setimpal pula dengan apresiasi dari sejumlah media di Taiwan yang menggambarkannya sebagai sebuah mobilisasi ribuan warga asing di tengah pandemi berjalan dengan lancar di bawah protokol kesehatan yang ketat.

Apalagi hal itu terjadi pada saat Masjid Besar Taipei (TGM) sebagai penampung jamaah terbesar tidak menyelenggarakan shalat Idul Fitri.

“Di tengah situasi epidemi, pertemuan di luar ruang telah dilonggarkan dan pekerja migran Indonesia telah bekerja sama dengan baik dengan melakukan langkah-langkah antiepidemi agar kegiatan sesuai dengan peraturan,” demikian laporan sebuah media lokal berbahasa Mandarin, Senin (25/5/2020).

 

Antara

(As'ad Syamsul Abidin)