Yudi Latif
Yudi Latif

Saudaraku, sekali hujan turun, rerumputan kering hijau kembali. Ketulusan memberi dan melayani menumbuhkan spontanitas daya bangkit bagi semesta kehidupan.

Jiwa manusia sehat tak akan kosong dari rasa simpati pada sesama. Jika seseorg melihat anak kecil berdiri di tubir jurang, ia akan refleks menghela anak itu tanpa sempat berpikir apa suku, agama, atau keuntungan yang didapat.

Mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri adalah kaidah emas bagi kebahagiaan hidup. Kebahagiaan tertinggi, menurut Viktor Frankl, tidaklah terengkuh melalui pencapaian kehendak bersenang atau kehendak berkuasa, tetapi dlm pencapaian kehendak menemukan makna.

Neokorteks otak manusia menjadikannya makhluk pencari makna yang menyadari akan kebingungan dan tragedi nestapa, dan jika kita tak menemukan arti paling mendalam dari hidup, kita mudah jatuh ke lembah keputusasaan. Adapun makna hidup terengkuh dengan jalan mengembangkan welas asih: bergembira dalam kebahagiaan yang lain dan bersedih dalam kepedihan yang lain.

Ketulusan welas asih yang dipancarkan relawan dan figur teladan bak tetes hujan di tengah terik kemarau etika dan rasa kemanusiaan. Siraman pelayanannya hidupkan kembali kebun kehidupan dari kekeringan karena keserakahan korupsi, menimbun harta, mementingkan diri sendiri, serta ketegaan saling membohongi, mengkhianati dan membenci.

Dalam impitan kesulitan yang melilit kehidupan rakyat, para pemuka bangsa dituntut mawas diri. Dalam terang mawas diri akan tampak bahwa kesulitan warga meraih kebahagiaan hidup disebabkan tabiat elit negeri yang tertawan di kebahagiaan rendah karena rangkaian panjang keinginan yang tak kenal cukup.

Sa’di berkisah, ”Seorang raja yang rakus bertanya kepada seseorang yang taat tentang jenis ibadah yang paling baik. Dia menjawab, ‘Untuk Anda, yang paling baik adalah tidur setengah hari sehingga tidak merugikan atau melukai rakyat meski untuk sesaat’.”

Pemimpin mulia terjaga untuk melayani rakyat menciptakan “surga” kebahagiaan. Dunia bisa jadi surga tatkala kita saling mencintai, mengasihi, melayani, serta saling menjadi sarana bagi penyehatan batin dan keselamatan. Dunia bisa jadi neraka jika kita hidup dalam rongrongan rasa sakit, pengkhianatan, kehilangan cinta, dan miskin perhatian.

Makrifat Pagi, Yudi Latif

(As'ad Syamsul Abidin)