Jakarta, Aktual.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah sepanjang tahun lalu di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, capaian tersebut terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing, baik di pasar saham maupun pasar obligasi domestik.
Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara pergerakan indeks saham dan arus modal asing yang keluar dari Indonesia. Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan, menilai fenomena tersebut patut dicermati secara lebih mendalam.
“Tahun lalu kita melihat foreign outflow yang cukup signifikan, baik di pasar saham maupun pasar obligasi, walaupun IHSG berada di level tertingginya,” ujar Deni dalam Media Briefing CSIS Outlook 2026 di Gedung Pakarti Centre, Jakarta, Rabu (07/01/2026).
Secara makroekonomi, Indonesia masih ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang mendekati 5 persen dengan inflasi yang relatif terkendali. Meski demikian, Deni menilai kondisi agregat tersebut belum sepenuhnya mencerminkan tekanan yang terjadi di sektor eksternal.
Menurutnya, perlambatan ekonomi global serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang mendorong sikap kehati-hatian investor asing. “Tekanan dari eksternal membuat arus modal menjadi sangat sensitif dan mudah keluar ketika risiko global meningkat,” katanya.
Tekanan eksternal tersebut tercermin pada pelemahan nilai tukar rupiah dan membesarnya defisit neraca pembayaran. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan utang negara, terutama melalui kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN).
Dari sisi domestik, pelebaran defisit fiskal juga menjadi perhatian, seiring penerimaan pajak yang belum optimal di tengah peningkatan belanja pemerintah. “Defisit yang membesar dan besarnya utang jatuh tempo dapat meningkatkan persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia,” ucap Deni.
Ia menegaskan, penguatan IHSG tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental ekonomi secara menyeluruh. Oleh karena itu, pembuat kebijakan perlu melihat indikator pasar keuangan secara lebih komprehensif dalam merumuskan langkah antisipatif ke depan.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















