Suasana penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (8/11). Pada perdagangan hari ini berakhir memerah setelah kemarin berhasil mencetak rekor tertinggi. Bursa saham Tanah Air ditutup turun ke level 6.049,38 atau melemah 11,07 poin setara dengan 0,18%. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (1/12) pagi menguat di tengah koreksi indeks di bursa saham Amerika Serikat dan Eropa.

IHSG pagi ini dibuka menguat 10,59 poin atau 0,16 persen ke posisi 6.544,52. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,88 poin atau 0,31 persen ke posisi 933,86.

“Pelemahan indeks-indeks di Eropa dan AS akan membayangi potensi technical rebound IHSG pada hari ini,” kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (1/12).

Sentimen negatif utamanya berasal dari kekhawatiran peningkatan kembali kasus baru COVID-19, menyusul penemuan varian baru Omicron yang diperkirakan memiliki tingkat replikasi lebih tinggi.

Peningkatan kasus dikhawatirkan berdampak negatif pada pemulihan ekonomi global, mengingat peningkatan kasus umumnya diikuti dengan pengetatan restriksi kegiatan masyarakat.

Hal ini dikhawatirkan meningkatkan tekanan pada inflasi ditengah kondisi disrupsi rantai pasok yang tengah berlangsung.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mengantisipasi data inflasi dan indeks manufaktur pada November 2021.

Dari AS, indeks-indeks Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (30/11), menyusul pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell bahwa bank sentral akan membicarakan kemungkinan percepatan pemangkasan program pembelian obligasi pada Desember 2021.

Di samping sentimen tapering, Wall Street juga tertekan oleh perkembangan varian Omicron. Terkait hal tersebut, CEO Moderna Stephane Bancel berekspektasi bahwa vaksin COVID-19 yang ada sekarang kurang efektif terhadap Omicron.

Sementara Regeneron menyatakan bahwa antibody treatment miliknya kemungkinan menunjukkan penurunan efektivitas terhadap Omicron.

Pernyataan-pernyataan tersebut turut memicu aksi sell-off di bursa efek AS pada perdagangan Selasa (30/11) kemarin.

Sentimen-sentimen yang sama lebih dulu menekan indeks-indeks di Eropa yang ditutup melemah di kisaran 1 persen pada perdagangan Selasa (30/11).

Pelaku pasar juga mengkhawatirkan dampak Omicron terhadap potensi peningkatan inflasi di tengah kondisi disrupsi rantai pasok global.

Euro Zone Inflation mencatatkan kenaikan ke 4,9 persen (yoy) pada November 2021, diatas perkiraan. Sentimen tapering oleh The Fed dan omicron diperkirakan masih akan menjadi fokus utama pelaku pasar di regional Asia, disamping antisipasi data indeks manufaktur Jepang, Indonesia dan Tiongkok pada hari ini.

Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain indeks Nikkei menguat 209,81 poin atau 0,75 persen ke 28.031,57, indeks Hang Seng naik 271,38 poin atau 1,16 persen ke 23.746,64, dan indeks Straits Times meningkat 27,55 atau 0,91 persen ke 3.068,84.

(Antara)

(A. Hilmi)