Jakarta, Aktual.co — Seperti halnya kebijakan sejumlah pejabat The Fed, lembaga keuangan global yakni International Monetary Fund (IMF) meminta Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk menunda kenaikkan suku bunga atau Fed rate hingga kuartal I tahun 2016 mendatang. 
Dalam hal ini, IMF menyarankan kenaikan Fed rate harus diimbangi dengan adanya pemulihan ekonomi, termasuk sinyal positif mengenai data gaji dan inflasi. Pasalnya, data ekonomi AS pada kuartal I 2015 masih terbilang variatif sementara pertumbuhan ekonomi hanya 0,7 persen. 
“Berdasarkan proyeksi makro ekonomi dan melihat potensi pertumbuhan serta tingkat inflasi AS, The Fed sebaiknya menunda kenaikkan suku bunga hingga semester I 2016,” tutur IMF dalam laporannya. Demikian seperti dilansir laman Reuters, Jumat (5/6).
IMF sendiri memproyeksikan inflasi AS akan mencapai target dua persen yang ditentukan The Fed pada pertengahan 2017. Kenaikkan suku bunga dapat mendorong kebijakan serupa dalam waktu lebih cepat.
“Menunda kenaikkan suku bunga akan memberikan jaminan berharga pada risiko disinflasi, pembaruan kebijakan dan akhir dari era suku bunga rendah di AS,” ungkap para analis di laporan IMF.
Suku bunga rendah dalam jangka panjang telah membuat para investor memburu yield dari sejumlah aset AS. IMF pun memperingkatkan bahwa migrasi finansial yang terburu-buru dapat menyebakan gangguan nilai pasar.
IMF menyatakan, meski kordinasi antar lembaga berjalan dengan sangat baik, tapi diperlukan kejelasan mengenai peran dan tanggungjawab mengenai sistem, penanganan krisis di bawah payung Financial Stability Oversight Committee (FSOC).
Seperti diketahui, Gubernur The Fed Janet Yellen telah menekankan ekonomi Amerika Serikat masih berada di jalurnya dan kenaikkan suku bunga tahun 2015 ini sudah dalam rencana. kendati demikian beberapa gubernur The Fed dari negara bagian menilai pengaturan kenaikkan suku bunga tersebut telah meningkatkan kekhawatiran yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi AS.

()