Jakarta, Aktual.co — Sekretaris Uskup Keuskupan Agung Kupang Romo Gerardus Duka mengharapkan momentum perayaan Tahun Baru Imlek 2566 menjadi wahana untuk memperkuat semangat toleransi antaragama dan antarumat beragama di Indonesia.
“Imlek hanyalah sebuah hari raya keagamaan yang dirayakan oleh warga keturunan Tionghoa setiap tahun, seperti halnya umat kristiani merayakan Natal dan Paskah. Namun, kita harapkan momentum ini menjadi wahana untuk memperkuat semangat toleransi di antara sesama umat beragama dan antaragama di Tanah Air,” katanya di Kupang, Selasa (17/2).
Ia menambahkan sebagai bangsa yang telah menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, toleransi antarumat beragama di Tanah Air sudah merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI Nusa Tenggara Timur H Abdul Kadir Makarim menambahkan perayaan hari besar keagamaan di Indonesia, baik bagi umat Islam, Kristen, Hindu dan Budha serta warga keturunan Tionghoa, sudah menjadi agenda tahunan masing-masing agama.
“Setiap perayaan hari besar keagamaan, selalu melibatkan semua warga masyarakat tanpa membedakan suku, agama dan etnis. Karena itu, semangat toleransi semacam ini merupakan sesuatu yang hakiki yang harus terus ditumbuhkembangkan,” katanya.
Bagi umat beragama di NTT, kata Makarim, rasa solidaritas sebagai warga dalam merajut toleransi kehidupan beragama di daerah berbasis kepulauan ini, sudah merupakan sesuatu yang lumrah.
“Umat kristiani terlibat aktif dalam menjaga keamanan malam takbiran dan shalat Idul Fitri bagi umat muslim, serta pemuda masjid menjaga keamanan pada malam Natal di semua gereja yang ada, merupakan sesuatu yang biasa, karena kadar solidaritas dalam membangun kerukunan hidup beragama di daerah ini sudah sangat tinggi,” ujarnya.
Meskipun demikian, Rois A’am PBNU NTT juga mengakui bahwa masih ada sejumlah kasus yang sering muncul dan menjadi pengganggu dalam menegakkan tata nilai kehidupan sebagai orang beragama, karena fanatisme sempit terhadap agama yang dianutnya serta egoisme kedaerahan.
“Nilai-nilai toleransi itu sering luntur tatkala munculnya perang antarsuku, perkelahian antarkelompok, penodaan terhadap simbol-simbol keagamaan tertentu, serta penyiaran agama yang menyesatkan iman seseorang serta sederetan persoalan sosial lainnya,” kata Makarim.
Dalam hubungan dengan itu, ia mengharapkan ada semacam jejaring kerja (networking) dalam pembinaan kerukunan antaragama dan antarumat beragama, karena hal itu bukan semata-mata menjadi tugasnya Kementerian Agama.
Sementara itu, Ketua Sinode GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Pendeta Robert Litelnoni STh mengatakan Imlek perlu dimaknai sebagai salah satu momentum untuk terus memperbaharui semangat kerukunan antarumat beragama dan antaragama untuk wujudkan masyarakat yang Agamis Rukun Mengharum.
“Meskipun demikian, kita juga harus jujur mengakui bahwa dalam kehidupan bersama sering terjadi gesekan-gesekan yang menimbulkan disharmonisasi di antara umat beragama yang berbeda keyakinan. Ini fakta yang tidak bisa kita sangkal,” ujarnya.
Karena itu, kata Pendeta Litelnoni, memelihara dan mewujudkan kehidupan yang rukun mengharum di antaraumat beragama dan antaragama merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat, bukan semata-mata menjadi tanggungjawabnya Kementerian Agama.
Artikel ini ditulis oleh:















