Surabaya, Aktual.co — Puluhan warga dari umat Tri Dharma berbondong-bondong menuju klenteng tempat ibadah mereka. Selain melakukan sembahyangan pada saat tahun baru imlek, mereka juga ingin diramal nasibnya pada setahun ke depan.
Hal ini terjadi setiap tahun pada saat bertepatan dengan hari raya Imlek di beberapa klenteng di Surabaya, seperti di Klenteng Sukaloka, Jalan Coklat Surabaya. Usai melakukan sembahyang, mereka tidak langsung pulang, tetapi kembali duduk untuk mengantri diramal nasibnya. 
Juru Kunci Klenteng Sukaloka, Ong King Ngik menyebut permintaan masyarakat Tionghoa untuk diramal nasibnya, terus mengalir  sejak kemarin. Jika hari biasa, paling banyak ada 7 anak-anak muda yang ingin diramal, terkadang tidak ada sama sekali. Tetapi, jika pada imlek seperti ini, tidak hanya anak muda. Orang dewasa pun rela menunggu untuk diramal.
“Kalau yang dewasa, rata-rata ingin diramal soal usahanya sukses atau tidak, terus usaha apa yang cocok. Tetapi kalau masih remaja, paling banyak bertanya soal jodoh.” Ujar Ong kepada Aktual.co (19/2).
Ong, membeberkan jika ramalan ini meminta  petunjuk pada dewi penguasa lautan, Dewi Samudra.  Tidak serta merta Dewi Samudra memberikan petunjuk. Tergantung kekusukan yang diramal ketika menjalani proses ritual.
Dari pantuan aktual.co, memang proses ritual dibutuhkan sekitar 5 menit. Tetapi jika salah ritual, harus diulangi berulang kali sampai benar.
Pertama, mereka yang meminta diramal, harus memberikan penghormatan dengan menggangkat dupa 3 kali di hadapan patung Dewi Samudra sambil menyebutkan nama dan alamat.
Setelah itu menjatuhkan 1 lidi dari puluhan lidi yang berada di dalam tungkuk dengan cara mengopyok. Setelah lidi yang sudah diberi nomor itu jatuh, maka dilanjutkan dengan ritual membuang dua buah kayu yang berbentuk pisang.
Jika jatuhnya kayu itu sama-sama menghadap ke atas, berarti Dewi Samdura sedang tertawa, yang berarti yang diramal tidak begitu percaya dengan hasilnya. Sehingga harus melakukan ritual ulang. 
Tetapi jika kedua kayu tersebut jatuhnya sama-sama telungkup, pertanda Dewi Samudra sedang marah. Itu menandakan yang diramal, dalam hatinya menyepelekan ritual tersebut. Sehingga harus mengulang lagi.
Namun, jika kedua kayu tersebut jatuhnya, satu telungkup dan satu menghadap ke atas, berarti ritual telah sempurna. Dan kemudian si peramal menjelaskan arti jatuhnya kayu yang sudah diberi nomor urut tersebut.
“Jadi tidak serta merta Dewi Samudra ini memberikan jawaban. Terantung tingkat kekususkan saat melakukan ritual.” tutup Ong.

Artikel ini ditulis oleh: