Semua itu, kata Ricky, berbagai warning bahaya itu mestinya sangat mudah dipahami oleh para akademisi. Sayangnya banyak akademisi bukan saja tidak mempunyai integritas kebangsaan, melainkan jadi kepentingan asing dalam melumpuhkan kepentingan Indonesia sembari menerima dana-dana asing.
“Selama rezim pemerintah yang berjalan masih dikelililingi para “mafia rente”, maka pemerintah akan selalu plintat-plintut dan tidak akan pernah menyadari semua bahaya itu.”
Situasi kian runyam dan buruk sejalan dengan diberlakukannya global first politic oleh rezim Jokowi, dan menjadi lebih buruk lagi bersamaan dengan tidak terukurnya proyeksi dan kepastian manfaat pembangunan dalam jangka menengah dan jangka panjang.
Menurut Ricky, ambisi keberhasilan rezim Jokowi yang diorientasikan pembangunan infrastrukur secara serentak melalui skema utang dan konsesi pada dan untuk bangsa asing, hanyalah memberi kepastian manfaat jangka pendek bagi kontraktor dan supliernya.
Sedangkan dalam jangka menengah dan panjang, nilai ekonomi infrastruktur yang dibangun masih sangat diragukan. “Jika dikaitkan dengan dinamika tersebut, maka semua petani tembakau perlu bersiap-siap untuk terpaksa menjual lahan mereka atas berbagai skenario okupasi yang sangat tidak bermoral melalui banyak pihak.”
Artikel ini ditulis oleh:
Wisnu














