Dua orang anak bermain di samping tumpukan sampah di kawasan pesisir laut, Kelurahan Cangkol Tengah, Lemahwungkuk, Cirebon, Jawa Barat, Senin (16/5). Penumpukan sampah tersebut menyebabkan kondisi air laut tercemar yang berdampak buruk bagi biota laut dan lingkungan serta kesehatan warga sekitar pesisir laut. ANTARA FOTO/Ivan Pramana Putra/foc/16.

Jakarta, Aktual.com- Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut (PPKPL) pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Heru Waluyo, menyatakan bahwa Indonesia sebagai kontributor sampah plastik di laut urutan kedua terbesar di dunia.

“Hal tersebut adalah dari hasil riset dari universitas di Amerika, dan indikasinya yaitu dari negara-negara yang sedang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, seperti negara Thailand, China, Filipina dan yang lainnya,” katanya saat kunjungan kerja kegiatan bersih-bersih pantai (Coastal Clean-up) di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (3/12).

Dengan pertumbuhan ekonomi yang baik di suatu negara, lanjut dia, maka tingkat konsumsi masyarakat tentu akan meningkat pula, dan tingkat konsumsi yang meningkat itu lebih cenderung mengonsumsi makanan kemasan-kemasan dari berbagai produk.

Selain itu, kata dia, banyaknya sampah di laut juga disebabkan perilaku-perilaku masyarakat yang masih kurang peduli terhadap lingkungannya sendiri.

“Pemerintah daerah harus peduli dengan cara menyediakan tempat sampah di kawasan pesisir,” katanya.

Ia menjelaskan, pengaruh sampah plastik ke laut akan berdampak terhadap biota-biota laut dan juga mematikan habitat-habitat di laut seperti pohon bakau dan terumbu karang.

“Contohnya, pohon bakau jika tertutup sampah plastik akan mati atau terlambat pertumbuhannya, sedang terumbu karang kalau tertutup plastik cukup banyak juga bisa mati karena tidak terkena sinar matahari,” katanya menjelaskan. (ant)