Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta menuturkan, bangsa Indonesia masih mengalami problematika kebangsaan yang disebabkan faktor internal dan eksternal.
“Ada beberapa hal yang berasal dari dalam negeri, seperti masih lemahnya penghayatan dan pengamalan agama serta munculnya pemahaman atas ajaran agama keliru dan sempit, dan tidak harmonisnya pola interaksi antarumat beragama,” kata Oesman Sapta saat sosialisasi di Pontianak, Selasa (28/10).
Kemudian, sistem sentralisasi pemerintahan di masa lampau yang mengakibatkan terjadinya penumpukan kekuasaan di pusat dan pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatisme kedaerahan.
Selain itu, tidak berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinekaan dan kemajemukan dalam kehidupan berbangsa.
“Adanya ketidakadilan ekonomi dalam lingkup luas dan kurun waktu yang panjang,” kata Oesman Sapta, yang juga anggota DPD dari dapil Kalbar itu.
Akibatnya, lanjut dia, kondisi itu melewati ambang batas kesabaran masyarakat secara sosial yang berasal dari kebijakan publik dan munculnya perilaku ekonomi yang bertentangan dengan moralitas dan etika.
Ia mengatakan, kondisi itu ditambah kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagian pemimpin dan tokoh bangsa.
Lalu, tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal, dan lemahnya kontrol sosial untuk mengendalikan perilaku yang menyimpang dari etika yang secara alamiah masih hidup di tengah masyarakat.
Ia menilai, ada pula keterbatasan kemampuan budaya lokal, daerah dan nasional dalam merespon pengaruh negatif dari budaya luar. “Meningkatnya prostitusi, media pornografi, perjudian, serta pemakaian, peredaran dan penyelundupan obat terlarang,” katanya.
Sedangkan faktor yang eksternal atau luar negeri, antara lain semakin meluas dan tajamnya persaingan antarbangsa serta makin kuatnya intensitas intervensi kekuatan global dalam perumusan kebijakan nasional.

()