Pelaku UMKM

Jakarta, Aktual.com – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan Indonesia sangat membutuhkan investasi asing agar perekonomian dapat lebih stabil di tengah pandemi yang belum berakhir.

Ia mengingatkan agar investasi asing yang masuk ke Indonesia tidak dalam bentuk portofolio.

“Investor asing yang masuk dalam bentuk riil bukan hanya tanam di portofolio saja tetapi mereka investor asing datang ke Indonesia menanamkan modal secara riil,” kata Esther dikutip dari Pro 3 RRI, Kamis (21/7).

Menurut dia, dengan banyaknya investasi asing maka arus modal (capital in flow) datang bisa diimplementasikan di Indonesia.

“Maka kita bisa memanfaatkannya untuk mengurangi pengangguran atau meningkatkan jumlah tenaga kerja saya rasa perekonomian kita akan lebih stabil,” terangnya.

Menurutnya, salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi adalah investasi dan ekspor. Ia mencatat dalam kuartal kedua tahun 2022 realisasi investasi mengalami kenaikan Rp282,4 triliun.

“Ini capaian yang luar biasa, ke depannya saya sangat berharap hal ini bisa ditouch-up lagi ya, meningkat lagi,” tegasnya.

Sedangkan di sisi ekspor, kata dia, sebagian besar emasih dalam komoditas mentah. Menurutnya, sebaiknya pemerintah memberikan insentif bagi eksportir dalam pengolahannya.

“Jadi mereka mengekspor bukan dalam bentuk komoditas mentah tetapi bentuk produksi, artinya diaolah dulu sehingga nilai tambahnya ada atau meningkat, jadi secara nilai ekspor juga akan meningkat walaupun volumennya tetap,” tutupnya.

Diketahui, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasiinvestasi sepanjang April-Juni (triwulan II) tahun 2022 mencapai Rp302,2 triliun atau tumbuh 35,5 persen dibandingkan capaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp223,0 triliun (yoy).

Capaian tersebut juga tercatat tumbuh 7,0 persen dibandingkan dengan capaian triwulan sebelumnya sebesar Rp282,4 triliun (q on q) dengan total penyerapan tenaga kerja sebanyak 320.534 orang.

(Andy Abdul Hamid)