Risiko yang Tidak Terlihat

Menurut Johan, dinamika geopolitik global tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu politik luar negeri. Perkembangan hubungan antarnegara terbukti memiliki dampak langsung terhadap kondisi fiskal, termasuk terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ketika hubungan dengan mitra strategis mengalami gangguan, dampaknya segera terasa pada sektor perdagangan. Penurunan ekspor komoditas unggulan dapat terjadi akibat hambatan tarif maupun non-tarif. Bagi Indonesia, komoditas seperti produk pertanian, perikanan, dan turunannya sangat bergantung pada akses pasar global, sehingga rentan terhadap perubahan kebijakan perdagangan internasional,” ujarnya.

Selain itu, ketidakstabilan geopolitik juga berpotensi mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya produksi di dalam negeri, terutama karena ketergantungan pada input impor seperti pupuk, pakan, dan teknologi. Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya menekan margin usaha dan berisiko menurunkan produktivitas sektor-sektor strategis.

Dari sisi moneter, Johan menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi salah satu risiko utama. Ketidakpastian global cenderung memicu arus modal keluar (capital outflow), yang berujung pada pelemahan nilai tukar. Dalam situasi ini, pemerintah kerap perlu mengalokasikan anggaran tambahan guna menjaga stabilitas ekonomi.

Implikasi lainnya adalah meningkatnya beban subsidi, khususnya pada sektor pangan dan energi. Kenaikan harga global memaksa pemerintah untuk hadir melindungi daya beli masyarakat. Namun, konsekuensinya adalah semakin terbatasnya ruang fiskal untuk pembiayaan pembangunan.

Menurutnya, setiap keputusan diplomatik memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan. Pemerintah dituntut untuk mempertimbangkan secara cermat dampak geopolitik terhadap keberlanjutan fiskal, demi menjaga kemampuan negara dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.