Sektor yang Paling Rentan

Johan menilai ketahanan pangan menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap dinamika geopolitik global. Dalam kondisi normal, pasar internasional berperan sebagai penyeimbang ketika produksi domestik mengalami tekanan. Namun, di tengah ketidakstabilan geopolitik, mekanisme tersebut justru berpotensi menjadi sumber kerentanan baru.

“Gangguan dalam hubungan internasional dapat berdampak langsung pada akses terhadap impor pangan strategis. Pembatasan ekspor oleh negara pemasok maupun hambatan distribusi global berisiko menimbulkan kekurangan pasokan di dalam negeri. Situasi ini turut menyulitkan upaya menjaga stabilitas harga pangan,” kata Johan.

Di sisi lain, sektor produksi dalam negeri juga terdampak oleh fluktuasi global. Harga input seperti pupuk, benih, dan pakan ternak sangat dipengaruhi oleh pasar internasional. Kenaikan harga input tersebut menyebabkan peningkatan biaya produksi yang pada akhirnya berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.

Distribusi pangan turut menghadapi tantangan signifikan. Gangguan pada jalur logistik, baik akibat konflik maupun kebijakan perdagangan, dapat menghambat kelancaran pasokan antarwilayah. Sebagai negara kepulauan, Indonesia dihadapkan pada kompleksitas tambahan dalam memastikan distribusi pangan yang efisien dan merata.

Lebih lanjut, Johan berpendapat bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, tetapi juga akses masyarakat. Tekanan ekonomi akibat gejolak global berpotensi menurunkan daya beli, sehingga tidak semua lapisan masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangannya meskipun pasokan tersedia.

Oleh karena itu, stabilitas hubungan internasional menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Selain memperkuat produksi domestik, Indonesia juga perlu memastikan akses terhadap pasar global tetap terbuka guna mengantisipasi berbagai risiko di tengah ketidakpastian global.

Menjaga Indonesia sebagai Penyeimbang

Di tengah rivalitas global yang semakin tajam, Johan menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai penyeimbang. Peran ini tidak hanya penting bagi kepentingan nasional, tetapi juga bagi stabilitas kawasan, khususnya di Asia Tenggara.

Melalui forum kerja sama regional, Indonesia memanfaatkan perannya dalam ASEAN untuk mendorong kolaborasi yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan bersama. Selama ini, ASEAN dikenal sebagai kawasan yang relatif stabil, dengan Indonesia sebagai salah satu aktor kunci dalam menjaga keseimbangan tersebut.

Meski demikian, Johan menyebutkan bahwa peran sebagai penyeimbang tidak terbentuk secara otomatis. Indonesia perlu terus aktif membangun kepercayaan dengan berbagai pihak, baik di tingkat regional maupun global. Hal ini menuntut konsistensi kebijakan serta kemampuan menjaga komunikasi yang konstruktif dengan seluruh mitra strategis.

Johan menilai, kecenderungan untuk berpihak pada salah satu kekuatan besar dapat melemahkan kredibilitas Indonesia sebagai penyeimbang. Sebaliknya, sikap yang proporsional dan independen justru akan memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah internasional.

“Setiap keputusan terkait keterlibatan dalam inisiatif global perlu dipertimbangkan secara matang. Langkah yang diambil harus mampu memperkuat, bukan melemahkan, peran Indonesia sebagai penyeimbang di tengah dinamika global,” ujarnya.