Istanbul, Aktual.com – Pameran dagang halal terbesar dunia, OIC Halal Expo ke-9, kembali diselenggarakan oleh negara-negara anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) di kota metropolitan Turkiye, Istanbul, pada 24-27 November ini.

Kegiatan Halal Expo ke-9 ini diselenggarakan secara simultan dengan KTT World Halal ke-8. Tahun ini, kedua acara ini mengambil tema “For a Sustainable Trade: Explore All the Aspects of the Growing Global Halal Industry”.

KTT dan pameran dibuka secara resmi pada Kamis (24/11) lalu oleh Menteri Keuangan Turki Nureddin Nebati, dihadiri oleh Sekjen OKI, Wakil Perdanan Menteri Uzbekistan Aziz Abdukhakimov, Menko Perekonomian RI Airlangga Hartanto yang hadir secara virtual, menteri dan pejabat terkait lainnya.

Acara pembukaan dihadiri oleh sekitar 3.000 tamu VIP di Istanbul Expo Center, dengan sejumlah acara seremonial.

Perwakilan Indonesia yang hadir pada pembukaan antara lain Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal, Kepala Badan Standardisasi Nasional Kukuh S. Achmad dan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan Veri Anggrijono.

Turut hadir juga perwakilan entitas regulator halal Indonesia, LPPM MUI dan BP Tanjung Pinang sebagai kawasan industri yang mendukung industri halal.

Indonesia sedang kembangkan ekosistem industri halal

Dalam pidatonya lewat konferensi video, Menko Airlangga Hartanto mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mengembangkan ekosistem industri halal di tanah air.

“Indonesia mendukung penuh sustainable trade dalam memajukan industri halal dan Indonesia sedang mengembangkan ekosistem menjadi Global Halal Hub,” ungkap Menko Airlangga Hartanto saat pembukaan.

Selain itu, Menko juga mengajak negara OKI untuk saling berkolaborasi memajukan industri halal.

“Driving force industri halal dunia adalah pertumbuhan demografi dan pendapatan per kapita di kalangan Muslim yang meningkat. Namun demikian, situasi krisis energi dan krisis pangan yang terjadi saat ini, telah mengganggu rantai pasok global, termasuk industri halal,” demikian tutur Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhamad Iqbal.

“Dalam situasi ini, Indonesia sebagai produsen bahan baku dapat menjadi penopang ekosistem perdagangan halal dunia yang berkelanjutan,” imbuh dia.

Setelah pembukaan, Menteri Keuangan Turki dan para tamu VIP secara resmi membuka kegiatan Halal Expo dan berkeliling ke area pameran.

Paviliun Indonesia hadir melalui 38 peserta pameran yang tergabung dalam 12 stand besar dari Kementerian/Lembaga dan Dinas Perdagangan Provinsi/daerah.

Di dalam pavilion seluas 323 m2, diperkenalkan produk halal Indonesia antara lain tekstil, makanan halal, kosmetik halal dan obat-obatan halal dunia.

Selain berbagai produk halal, paviliun Indonesia juga menampilkan LPPM MUI selaku Lembaga dalam sertifikasi halal di Indonesia serta BP Tanjung Pinang sebagai kawasan industri yang mendukung industri halal.

Sementara itu, Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Ankara Rahmawati Alih menyampaikan bahwa tahun ini merupakan kali kedua KBRI Ankara mengkoordinir keikutsertaan dalam Halal Expo dan antusiasme dari pelaku usaha dan daerah terlihat meningkat.

“Alhamdulillah, berkat kondisi pandemi yang sudah mulai membaik dan optimisme terhadap perkembangan industri halal global, Paviliun Indonesia dapat menampilkan lebih banyak eksibitor dengan produk yang lebih berkualitas dan beragam,” ujar Rahmawati.

Pameran tahunan OIC Halal Expo diselenggarakan oleh Islamic Centre for Development of Trade (ICDT) dan the Standards and Metrology Institute for Islamic Countries (SMIIC), badan di bawah OIC.

Pada tahun ini, pameran diikuti oleh sekitar 500 professional buyers dari 96 negara dunia terutama negara-negara Timur Tengah, Eropa Barat, Eropa Tengah dan kawasan Balkan.

Pameran diperkirakan akan mengakomodir sekitar 5.280 pertemuan business to business dan menarik perhatian lebih dari 50.000 pengunjung.

Digelar bersama kegiatan Halal Expo, KTT World Halal ke-8 menghadirkan 48 pembicara dari 16 negara dalam 11 sesi selama 3 hari hingga 26 November 2022.

Konferensi menghadirkan para pembicara dari kalangan pemerintah, regulator halal, akademisi dan industri dari berbagai belahan dunia.

Forum itu mengangkat isu standarisasi infrastruktur kualitas halal, peluang ekonomi baru dalam industri halal, pembiayaan halal, rantai pasok halal, makanan halal, obat-obatan halal, teknologi quality assurance halal, industri pengemasan halal, dan keberlanjutan industri pariwisata halal.

(Warto'i)