Setelah mendengar laporan PM Ali, semua Perdana Menteri setuju tentang pentingnya Konferensi A-A untuk perdamaian di Asia-Afrika dan seluruh dunia pada umumnya, dan menekankan pentingnya Konferensi Bogor untuk mempersiapkan perhelatan yang sangat bersejarah itu. Pada kesempatan ini kemudian keluarlah rumusan konkret tentang maksud Konferensi A-A, yang bunyinya sebagai berikut:
1.    Untuk memajukan goodwill dan kerjasama antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika, untuk menjelajah serta memajukan kepentingan-kepentingan mereka, baik yang silih-ganti maupun yang bersama, serta untuk menetapkan dan memajukan persahabatan serta perhubungan sebagai tetangga yang baik;
2.    Untuk mempertimbangkan soal-soal serta hubungan-hubungan di lapangan sosial, ekonomi dan kebudayaan daripada negara-negara yang diwakili;
3.    Untuk mempertimbangkan soal-soal yang berupa kepentingan khusus daripada bangsa-bangsa Asia dan Afrika, misalnya soal-soal yang mengenai kedaulatan nasional dan tentang masalah-masalah rasialisme dan kolonialisme;
4.    Untuk meninjau kedudukan Asia dan Afrika, serta rakyat-rakyatnya dalam dunia dewasa ini serta sumbangan yang dapat mereka berikan guna memajukan perdamaian serta kerjasama di dunia (Abdulgani, 2013: 26-33).

Pada akhir Pertemuan Bogor, tanggal 29 Desember, kelima Perdana Menteri menyepakati penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Indonesia dan kelima negara itu akan menjadi pengundang peserta konferensi. Lokasi konferensi yang disepakati dalam pertemuan 5 pemimpin pemerintahan itu adalah Bandung. Sedangkan waktunya disepakti pada akhir April. Bandung dipilih karena kota ini dipandang memiliki fasilitas yang memadai untuk penyelenggaraan konferensi internasional.

Ada gedung yang bisa dipergunakan sebagai tempat konferensi. Tersedia fasilitas hotel yang baik yang dekat dengan gedung tempat konferensi berlangsung. Gedung Merdeka yang dijadikan lokasi konferensi memang berdekatan jaraknya dari beberapa hotel terpandang, sehingga peserta konferensi cukup berjalan kaki menuju lokasi konferensi.

Dalam mempersiapkan momen bersejarah, panitia Konferensi bekerja lebih giat dan sungguh-sungguh agar tidak mempermalukan bangsa sendiri. Dorongan kesungguhan ini lebih terpacu setelah membaca laporan sebuah majalah terbitan Amerika Serikat  mengenai Konferensi Bogor.

Di situ antara lain dikatakan bahwa selama Konferensi Bogor “akomodasi untuk para delegasi begitu buruk, air tak mengalir, gantungan pakaian di kamar-kamar tidak ada, listrik kedap-kedip dan sebagainya, sampai-sampai (menurut laporan majalah itu) seorang anggota delegasi dari India mengeluh dan menyangsikan—apakah Indonesia dapat mengorganisir Konperensi A-A dengan baik!” Diberitakan bahwa delegasi dari India itu mengejek Indonesia dengan kata-kata: “These beggars will never learn it!”; Pengemis-pengemis ini tak akan dapat belajar.

Entah maksudnya hendak mengadu domba antara Indonesia dan India, atau ejekan itu memang sungguh-sungguh benar adanya; yang pasti pemberitaan itu menusuk tuan rumah Konferensi. “Kurang ajar!”, kata Pak Ali. Semua merasa terhina, dan semua bertekad untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia bukan bangsa pengemis. Dihina dan dilukai memang pedih; namun menjawabnya lebih baik dengan pembuktian, bahwa Indonesia bisa menyelenggarakan Konferensi A-A di Bandung secara terhormat.

Bersambung

Oleh: Yudi Latif, Chairman Aktual

()