Pesulap Merah Marcel Radhival (kiri) dan Gus Samsudin kanan) di padepokan Nur Dzat Sejati di Jawa Timur. Pesulap Merah mendatangi padepokan Gus Samsudin dengan tujuan membuktikan kesaktian dari Gus Samsudin (screenshoot youtube Pesulap Merah Marcel Radhival)

Jakarta, Aktual.com – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) turut menanggapi terkait perseteruan Gus Samsudin dan Pesulap Merah Marcel Radhival.

Gus Fahrur mengingatkan mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya dengan dukun-dukun. Bahkan, ia melarang umat Islam untuk menganggap dukun seperti kiai. Sebab keduanya berbeda. Dukun memakai trik, sedangkan kiai memiliki karomah (kemuliaan).

“Kita harus selektif. Kita kan kadang dukun dikiaikan, itu salah. Jangan kiaikan dukun. Masyarakat mesti ditekankan bahwa kalau karomah itu tidak diobral-obral. Karomah itu diberikan kepada wali, kekasih Allah, tidak untuk jualan, tidak untuk komersil atau konten. (Kalau dukun) itu tipuan, sihir, atau sulap,” ungkap Gus Fahrur, Senin (1/8).

Untuk informasi akhir-akhir ini viral di masyarakat konflik antara Gus Samsudin yang disebut memiliki kesaktian atau karomah ternyata setelah diteliti oleh Pesulap Merah Marcel Radhival, pemilik Padepokan Nur Dzat Sejati itu hanya menggunakan trik sulap dalam melakukan pengobatan terhadap para pasien yang datang kepadanya.

Menurut Gus Fahrur Karomah seseorang bisa dilihat dan dibuktikan bukan dari keanehan-keanehan yang dilakukan, tetapi ilmu dan amal. Para kiai yang memiliki karomah, kata Gus Fahrur, adalah mereka yang mengikuti sunnah dan syariat.

“Ukurannya bukan aneh. Nabi tidak mengajari yang aneh-aneh. Mengajari shalat dan kebaikan. Tapi ukurannya Nabi. Kalau (perilaku) mereka tidak cocok dengan Nabi atau walaupun bisa terbang, tetap itu bukan wali,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Annur Bululawang, Malang, Jawa Timur itu.

Gus Fahrur menegaskan, karomah tidak mungkin keluar dari tangan sembarang orang. Hal ini sebagaimana mukjizat yang hanya diberikan kepada Nabi Muhammad. Mukjizat yang dimiliki Nabi itu pun tidak diobral. Hanya saja, pada kondisi-kondisi tertentu, Nabi membuktikan mukjizat itu sebagai karunia dari Allah yang di luar kemampuan akal manusia.

“Itu pun sifatnya hanya untuk menguatkan kenabian. Sementara wali juga begitu, ada karomah. Syekh Abdul Qodir Al-Jailani pernah mengingatkan jangan kamu heran kalau ada orang bisa jalan di atas air atau terbang di angkasa, sebab burung bisa terbang dan ikan malah jalan di dalam air,” terang Gus Fahrur.

(Dede Eka Nurdiansyah)