Denpasar, Aktual.co — Menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berlaku tahun depan, pengusaha wanita yang tergabung dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) mengaku menghadapi beberapa kendala serius.

Ketua Umum IWAPI, Dyah Anita Prihapsari menuturkan, salah satu kendala berarti yang dihadapi pengusaha wanita adalah bunga kredit perbankan yang cukup tinggi.

“Bunga kredit perbankan yang tinggi menjadi kendala bagi kami,” kata Dyah di sela Rakernas IWAPI ke-25 di Sanur, Denpasar, Bali, Senin (24/11).

Oleh sebab itu, sektor usaha mikro, kecil dan mengengah sulit berkembang. Kendala lain yang dihadapi organisasinya adalah pungutan retribusi. Hal itu menyebabnya ekonomi berbiaya tinggi. Belum lagi jika ditambah dengan kepastian hukum dan pengurusan izin yang belum maksimal. Meskipun ia mengakui jika saat ini perizinan dibuat satu pintu, namun hal itu tetap dianggap menjadi kendala.

Dia juga menyebut sejumlah kendala lainnya, yakni pungutan retribusi yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, kepastian hukum dan pengurusan izin yang masih belum maksimal kendati sudah ada pelayanan satu pintu. “Ini kendala yang dihadapi pengusaha, khususnya pengusaha wanita,” katanya.

Jelang MEA 2015, Dyah berharap hal itu segera dicarikan jalan ke luarnya oleh pemerintah. Dyah meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk segera membuat kebijakan yang pro kepada pengusaha perempuan yang bergerak di sektor UMKM.

“Harus ada strategi yang kuat dari pemerintah mengatasi kendala yang dihadapi itu,” ulasnya.

 Apalagi, katanya, dari 32 ribu anggota IWAPI, 83 persennya adalah pengusaha di sektor UMKM. Komposisinya 60 persen pengusaha mikro dan kecil, sementara 13 persen pengusaha menengah.

Pada kesempatan sama, Menteri Perdagangan Rahmat Gobel menuturkan jika pemerintah tengah berupaya keras untuk mencarikan jalan ke luarnya. Salah satunya adalah dengan melakukan percepatan pembangunan infrastruktur.

Pembangunan infrastruktur akan memangkas biaya produksi tinggi di kalangan pengusaha. Pada saat sama, hal itu akan meningkatkan daya saing pengusaha. “Inilah alasan utama mengapa pemerintah menaikkan harga BBM beberapa waktu lalu. Subsidi akan dialihkan ke sektor lain seperti kesehatan, pendidikan, infrasruktur dan pertanian,” papar Rahmat.

Ia pun meminta kepada pihak swasta untuk ikut membantu memecahkan kendala yang dihadapi oleh IWAPI tersebut.

Artikel ini ditulis oleh: