Jakarta, Aktual.Com- Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdul Rahman Mas’ud menyebut jika indeks kerukunan umat beragama (KUB) selama tahun 2016 mencapai 75,45% atau naik 0,12 poin ketimbang dengan tahun sebelumnya.

Lebih lanjut Mas’ud mengatakan hal tersebut berasal dari hasil survei nasional, yang menunjukan jika tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia cukup tinggi.

Survei nasional tersebut jelas Mas’ud mengukur tiga indikator utama, yaitu: toleransi, kesetaraan, dan kerja sama.

Selain itu, kata dia hasil survei juga menemukan hubungan positif antara keterlibatan tokoh agama dan organisasi keagamaan dengan kerukunan umat beragama.

Disisi lain kata Mas’ud, survei juga memotret jika indeks kerukunan responden yang aktif dalam organisasi sosial maupun keagamaan lebih tinggi dibanding yang tidak terlibat aktif.

“Kepercayaan umat beragama terhadap tokoh agama memiliki indeks yang tinggi sebesar 68,65%. Kepercayaan umat beragama terhadap orang dari suku berbeda 73,71%. Sedangkan kepercayaan umat beragama terhadap penganut agama lain sebesar 77,09%,” ujar Mas’ud melalui perangkat elektronik, Sabtu (7/1/2017).

Menurut Mas’ud, Indonesia patut bersyukur karena memiliki Ormas Islam berpaham moderat seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Negara Islam sekalipun kata dia, belum tentu memiliki Ormas Islam yang sangat mengakar dan dapat menyemai nilai Islam moderat dan santun.

Selain indeks kerukunan, ungkap Mas’ud hasil kajian Balitbang Diklat Kemenag menyebutkan penyebab ketidak-rukunan umat beragama dipengaruhi oleh faktor non agama dan faktor agama. Faktor non agama di antaranya karena adanya kesenjangan ekonomi, kepentingan politik, dan konflik sosial dan budaya.

Sementara, faktor agama misalnya terkait polemic izin pendirian rumah ibadat, metode penyiaran agama, perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda. Faktor agama lainnya yang ikut mempengaruhi adalah penodaan agama, kegiatan kelompok sempalan, serta pengamalan agama yang tektualis.

“Masyakat Indonesia beruntung, karena mempunyai faktor yang merukunkan. Salah satunya adalah kearifan lokal (local wisdom) yang hampir ada di berbagai daerah dan suku di Indonesia,” pungkas Mas’ud.

Artikel ini ditulis oleh:

Bawaan Situs