Jakarta, Aktual.com – Pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 dapat terpenuhi jika prasyaratnya terpenuhi.

Sekretaris Jenderal DPP PAN, Eddy Soeparno menegaskan, tujuan utama di saat-saat seperti ini, bukanlah mengejar angka pertumbuhan ekonomi positif di kwartal III 2020. Melainkan terciptanya prasyarat pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Salah satunya menciptakan rasa aman bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi mereka.

“Semakin besar kasus harian terhadap warga yang terinfeksi Covid 19, semakin was-was juga masyarakat dalam beraktivitas apalagi membelanjakan uangnya,” kata Eddy kepada wartawan, Sabtu (29/8/2020).

Eddy menyampaikan itu untuk mengkritisi misi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang ingin mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada akhir September nanti.

Menurut dia, penyerapan belanja pemerintah di kwartal II terkontraksi hingga minus 6.9 persen perlu dikebut. Agar pembangunan infrastruktur, pekerjaan sarana dan prasarana di daerah rural bisa menyerap tenaga kerja untuk mengerakkan perekonomian.

“Berikut, tentu kita perlu memastikan agar bansos dan subsidi, khususnya bantuan sosial tunai, subsidi gaji dan lain-lain dikucurkan segera dan tepat sasaran,” imbuhnya

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI itu mengatakan, jika prasyarat pertama tersebut terpenuhi, maka penyerapan belanja pemerintah dan bansos serta subsidi gaji bisa menjadi daya ungkit perekonomian ke depan. Sebaliknya, jika tidak terpenuhi, maka bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi bakalan mundur.

Lebih lanjut menurut Eddy, ketika pemerintah membuka aktivitas perekonomian, tingkat kepatuhan dan kedisiplinan masyarakat dalam menjaga protokol kesehatan pun harus semakin diperketat. Untuk itu, sanksi tegas bagi pelanggar protokol kesehatan harus diberlakukan.

Tidak lupa, Eddy pun mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan dunia usaha melalui berbagai dukungan finansial dan stimulus yang diberikan di tengah pertumbuhan ekonomi yang kian terpuruk.

“Yang penting, jangan sampai basis UMKM kita kolaps dan dunia usaha gagal menahan tekanan PHK. Khususnya di sektor industri dan manufaktur,” pungkasnya.(RRI)

(Warto'i)