Surabaya, Aktual.co — Sayup-sayup angin terasa begitu semilir. Suara desing motor yang bersahutan tak merubah kenyamanan kampung Wayo (poligami), Tanggulangin Sidoarjo, Jawa Timur.
Beberapa bangunan rumah dan pabrik permanen di dekat, sawah menandakan jika Kampung Wayo bukanlah area primitif, terisolasi dan sebaginya. Keberadaan beberapa UKM, justru menandakan masyarakat bisa berkembang.
Ya, jika melihat kampung Jalan Wayo, tak jauh beda dengan perkampungan yang lain. Namun, ketika masuk lebih ke dalam dan berbaur dengan warga, ada yang unik dari bagian kampung yang memanjang itu.
Mayoritas kaum pria di situ, menikah lebih dari satu istri. Itu sebab, disebut kampung Wayo. Wayo berasal dari kata Wayuh. Dalam bahasa Jawa, Wayuh berarti menikah lebih dari satu.
Meski banyak yang menganggap faktor kebetulan, namun tentu saja bukan tanpa alasan disebut kampung Wayo. Padahal, nama asli kampung tersebut juga cukup keren, Jalan KH Ahmad Dahlan.
Seorang pamong desa yang keberatan, sempat mencopot dan membakar papan nama bertuliskan “Jalan Wayu” yang terbuat dari kayu. Namun, warga kembali memasang dengan bahan dari seng agar lebih kuat. Bulan berikutnya, pamong itu pun memilih pergi meninggalkan desa.
Ini bermula di era tahun 1980-an. Seorang tokoh desa memutuskan untuk menikah lebih dari satu istri. Langkah tokoh desa itu diikuti oleh seorang warga yang lain. Menikah lebih dari satu istri.
Jam berganti hari, bulan berganti tahun. Perlahan namun pasti, menikah lebih dari satu istri itu pun berkembang ke tetangga sekitar.
“Ada orang kalau cari alamat di sini, tanpa sengaja mengatakan kampung Wayo. Oh ini alamatnya di Kampung Wayo, di sana, Mas, Mbak,…” ujar warga, Didik, menirukan cerita-cerita terdahulu, Minggu (22/2).
Puluhan Kepala Rumah Tangga pun banyak yang mempunyai lebih dari satu istri. Namun, hanya dua yang tercatat resmi.
Artikel ini ditulis oleh:















