Ilustrasi- Imam Syafii berdialog

Jakarta, Aktual.com– Imam Syafi’i merupakan salah satu imam dari empat mazhab yang terkenal, yaitu mazhab Syafi’iyyah. Karena kehebatannya itu, dalam diri beliau tergabung banyak kemuliaan.

Imam Nawawi dalam kitab al-Muhadzdzab mengulas beberapa kemuliaan beliau dari berbagai sisi, yaitu:

Pertama, Kemuliaan bertautnya nasab dengan Nabi Muhammad SAW

Inilah suatu hal yang dipandangn para ulama sebagai puncak kemuliaan dan anugerah terbesar bagi Imam Syafi’i: pertalian darah, dengan segala atribut yang melekat di dalamnya, berupa kemuliaan, ilmu, budi pekerti luhur, karakter dan integritas yang kuat, dan sebagainya.

Kedua, Kemuliaan suku Quraisy

Quraisy dipandang sebagai sebuah suku Arab yang memiliki martabat dan kemuliaan yang tidaak dapat diremehkan dalam konfisi geopolitik di kawasan semenanjung Arab dewasa itu, sejak Islam belum datang maupun setelahnya.

Kemuliaan suku Quraisy ini di dapatkan oleh Imam Syafi’i karena beliau merupakan bagian dari suku Quraisy dari jalur sang ibu. Jika dirunut silsilah dari ibunya yaitu Fathimah binti Abdillah al-Mahdh bin al-Hasan al-Mutsanna bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.

إن اللهَ اصطفى كنانةَ من ولدِ إسماعيلَ ، واصطفى قريشًا من كنانةَ ، واصطفى من قريشٍ بني هاشمٍ ، واصطفاني من بني هاشمٍ

“Dari seluruh keturunan Ismail, sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dan dari keturunan Kinanah, Dia telah memilih Quraisy. Dan, dari keturunan Quraisy, Dia telah memilih Bani Hasyim. Dari seluruh Bani Hasyim, Dia telah memilih diriku.” (HR. Tirmidzi)

Ketiga, Kemuliaan suku Azd

Selain dari suku Quraisy, sang ibu juga merupakan salah satu keturunan dari suku Azad yang berasal dari Yaman. Banyak hadits yang menerangkan kemuliaan suku Azd, salah satunya, yaitu:

الملك في قريش و القضاء في الانصار و الاذان في الحبشة والامانة في الازد

“Kekuasaan berada pada Quraisy, peradilan pada golongan Anshar, lantunan Adzan pada suara orang Habasyah (Ethiopia), sementara Amanah dipegang oleh orang-orang azd.” (HR. Abu Hurairah)

Keempat, Kemuliaan tempat kelahiran

Muhammad bin Idris ini terlahir di Gaza, salah satu kawasan di wilayah Palestina, tanah suci ketiga bagi agama Islam setelah Mekkah dan Madinah, satu tempat yang menjadi tanah suci dan memiliki keterkaitan sejarah dengan tiga agama samawi: Yahudi, Kristen dan Islam.

Kelima, Kemuliaan tempat tumbuh kembang

Sang Imam mengalami proses tumbuh kembang pada masa usia emasnya di kota Mekkah, satu dari dua tanah suci umat Islam yang mulia, yang pada saat itu telah menjamur halaqah-halaqah keilmuan, seperti ilmu fiqih, ilmu qira’ah, hadits, tafsir, dengan para ahli di bidangnya masiang-masing di sekeliling Masjidil Haram.

Itulah kemuliaan-kemuliaan yang beliau dapatkan sehingga beliau mampu mencapai derajat tertinggi, hingga pada saat ini keharuman namanya masih tercium.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)