Saudaraku, dengan ketajaman mata batin, Paus Fransiscus menemukan alam terkembang sebagai guru pencerahan.

“Sungai tak minum airnya sendiri; pohon tak makan buahnya sendiri; kembang tak pancarkan aroma bagi dirinya sendiri; mentari tak bersinar bagi dirinya sendiri. Hidup bagi orang lain adalah suatu hukum alam. Kita terlahir untuk saling membahagiakan.”

Sebagai makhluk istimewa, manusia tercipta lebih sempurna, mengemban misi perawatan alam semesta. Jiwa manusia laksana sang surya yang memancarkan cahaya kasih dalam gerak meninggi. Jika cahaya itu redup, dunia akan memasuki gelap malam; membuat kemanusiaan terjerambab ke lembah kebinatangan.

Sekarang, bolehlah kita mawas diri. Seberapa tinggi derajat kemanusiaan kita? Tidakkah kepemimpinan lebih memprioritaskan kepentingan promosi keluarga sendiri? Tidakkah DPR membuat undang-undang yg menguntungkan anggota dan cukongnya sendiri? Tidakkah pemerintah membuat kebijakan dan mengangkat personil untuk keuntungan pendukungnya sendiri? Tidakkah kebijakan pejabat menguntungkan perusahaan dan jaringannya sendiri? Tidakkah perusahaan mengelabui pajak, mematikan yang lemah, menghancurkan ekosistem, untuk keuntungan dirinya sendiri?

Bila demokrasi dirayakan dengan tirani oligarki, pemodal kuat menginvasi legislasi, feodalisme membenamkan meritokrasi, komunalisme melumpuhkan solidaritas kebangsaan, rasa empati pada perbedaan pudar, pertanda terjadi peluluhan dalam dimensi kemanusiaan kita.

Kalau itu terjadi, keluhuran keyakinan dan nilai mengalami dekadensi, membuat gerak insaniah merosot ke titik nadir kerendahan primata. Padahal, tanpa kekuatan nilai, pencapaian apapun tak bernilai.

Marilah bermikraj dari kerendahan primata menuju ketinggian kemanusiaan dengan memuliakan kembali nilai.

Yudi Latif, Makrifat Pagi

(As'ad Syamsul Abidin)