Jakarta, Aktual.co — Investasi asing langsung (FDI) ke Tiongkok mengalami percepatan pada Januari 2015. Data pemerintah menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di luar negeri memompa lebih banyak uang ke sektor jasa di negara itu karena industri manufaktur melambat.
Kementerian Perdagangan Tiongkok mencatatkan investasi yang masuk naik 29,4 persen tahun-ke-tahun menjadi 13,9 miliar dolar AS, kenaikan terbesar selama empat tahun. Angka ini juga sedikit naik dari Desember 13,3 miliar dolar AS. Namun, para analis mengaitkan lonjakan bulan lalu dengan waktu Tahun Baru Imlek, yang tahun lalu jatuh pada 31 Januari, sementara liburan tahun ini dimulai pada 19 Februari.
Data Senin (16/2) menunjukkan perusahaan asing meningkatkan investasi di sektor jasa karena industri manufaktur Tiongkok melambat.
Sektor jasa menarik 9,2 miliar dolar AS dalam FDI, meningkat dari 45,1 persen pada tahun sebelumnya, mencapai 66 persen dari total FDI.
Aktivitas manufaktur Tiongkok mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun pada Januari, menandakan tekanan lebih lanjut terhadap ekonomi terbesar kedua dunia itu.
Indeks Pembelian Manajer (PMI) resmi yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) mencapai 49,8 pada bulan lalu, turun dari rekor 50,1 pada Desember.
Shen Danyang, juru bicara kementerian perdagangan, mengatakan ia berharap investasi langsung asing tumbuh stabil pada 2015.
Penurunan jumlah pabrik-pabrik Jepang karena penyesuaian bisnis normal daripada penarikan besar-besaran, ia menambahkan.
Hubungan antara kedua negara telah mendingin dalam beberapa tahun terakhir, terutama atas sengketa teritorial.
Sementara investasi langsung ke luar negeri (ODI) atau investasi langsung Tiongkok di luar negeri naik 40,6 persen menjadi 10,2 miliar dolar AS.
Tiongkok menarik total FDI senilai 119,6 miliar dolar AS pada 2014, sementara ODI melonjak menjadi 102,9 miliar dolar AS. Kedua ODI maupun FDI mengecualikan sektor keuangan.
Pihak berwenang Tiongkok berada di tengah-tengah penyelidikan luas atas praktek monopoli, harga dan kegiatan lainnya dari perusahaan-perusahaan asing.
Penyelidikan difokuskan pada sektor mulai dari manufaktur mobil dan obat-obatan hingga susu bayi, yang memicu kekhawatiran Beijing menargetkan mereka, sebuah tuduhan yang kementerian perdagangan telah berulang kali membantahnya.
Tiongkok sebagai tujuan investasi juga telah menurun dalam beberapa tahun terakhir karena meningkatnya biaya tenaga kerja dan lahan serta persaingan dari negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam.
Para pejabat juga menyalahkan faktor negara sumber, seperti Washington yang mendorong pemindahan produksi industri kembali ke Amerika Serikat.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka

















