Jakarta, Aktual.com — PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai emiten pertama pada 2026, Jumat (10/4/2026), dengan kelebihan permintaan (oversubscribe) mencapai 386,86 kali. Dalam penawaran umum perdana saham (IPO) tersebut, perseroan melepas 1,8 miliar saham baru pada harga Rp168 per saham dan menghimpun dana sebesar Rp302,4 miliar.
Direktur Utama PT BSA Logistics Indonesia Tbk, Edwin Wibowo, mengaku tingginya minat investor berada di luar perkiraan perseroan. “Jujur, saya sendiri tidak menyangka antusiasme pasar yang sangat positif terhadap penawaran saham kami dengan oversubscribe hampir 400 kali,” ujarnya kepada awak media.
Dana hasil Initial Public Offering (IPO) tersebut akan digunakan untuk mendukung ekspansi usaha perseroan, terutama melalui rencana akuisisi perusahaan di sektor angkutan laut. Sebagian lainnya dialokasikan untuk belanja modal guna meningkatkan kapasitas operasional dan efisiensi layanan logistik.
Langkah tersebut, kata Edwin, ditempuh untuk memperkuat model bisnis perseroan sebagai penyedia logistik terintegrasi. BSA Logistics ingin memperkuat keterhubungan antara layanan angkutan darat, pergudangan, dan angkutan laut dalam satu rantai distribusi.
Perseroan menilai peluang industri logistik nasional masih terbuka lebar sejalan dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dan tingginya aktivitas distribusi domestik. Kebutuhan terhadap layanan logistik multimoda yang terintegrasi juga dinilai terus meningkat seiring besarnya pergerakan barang antardaerah.
Dalam penjelasannya, Edwin juga menyebut logistik tidak hanya dipandang sebagai biaya, tetapi sebagai bagian penting dari rantai pasok dan pergerakan ekonomi. “Sejak awal, kami membangun WBSA bukan sekadar jaringan logistik, melainkan konektivitas,” katanya.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global karena didukung sumber daya alam, komoditas, dan pasar domestik yang luas. Namun, peluang tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan memperkuat konektivitas logistik antardaerah dan antarpulau.
Saat ini, perseroan mengandalkan armada milik sendiri serta dukungan vendor lokal di sejumlah wilayah operasional, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. BSA Logistics memiliki sekitar seribu armada sendiri, sementara rencana penambahan kapasitas akan mengikuti kebutuhan pengembangan usaha ke depan.
Di tengah tekanan sentimen global, Edwin menyatakan perseroan tetap melihat prospek bisnis logistik secara positif. Ia menambahkan perubahan kondisi eksternal dapat menjadi peluang selama perusahaan mampu meningkatkan efisiensi, termasuk dengan menekan waktu tunggu antara kapal, truk, dan gudang dalam rantai distribusi.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi















