Istanbul, Aktual.com – Iran mengancam akan menargetkan seluruh infrastruktur milik Amerika Serikat (AS) dan Israel di Timur Tengah jika fasilitas energi mereka diserang. Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dengan AS dan Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam jika infrastruktur strategisnya menjadi sasaran serangan.
“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang, seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik Amerika Serikat dan rezim Israel di kawasan akan menjadi sasaran,” ujarnya, dikutip dari kantor berita Fars, Minggu (22/3/2026).
Ancaman tersebut disampaikan setelah Presiden AS, Donald Trump, memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau menghadapi serangan terhadap fasilitas vitalnya. Selat Hormuz sendiri dilaporkan mengalami gangguan signifikan sejak awal Maret, yang turut mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga memperingatkan bahwa negaranya akan bertindak “tanpa pengekangan” jika serangan terhadap infrastruktur Iran terus berlanjut.
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer dan warga sipil.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah. Iran juga menuduh AS dan Israel menyerang kapal sipil di Teluk Persia.
“AS dan Israel, karena terus mengalami kekalahan di medan perang, mulai menyerang kapal sipil dan penumpang di Teluk Persia,” kata Zolfaghari, dikutip dari stasiun televisi Iran SNN. Ia menegaskan bahwa jika serangan tersebut berlanjut, Iran akan mengambil tindakan balasan yang serius.
Di sisi lain, Presiden Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran, Pirhossein Kolivand, mengungkapkan dampak besar serangan terhadap fasilitas sipil. Menurutnya, lebih dari 80.000 lokasi sipil telah diserang sejak konflik dimulai.
Ia merinci, lebih dari 20.000 lokasi berada di Teheran, sementara lebih dari 60.000 lainnya tersebar di berbagai wilayah Iran. Selain itu, sekitar 18.790 unit komersial, 266 pusat kesehatan, dan 498 sekolah turut menjadi sasaran.
“Serangan ini menunjukkan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional,” ujar Kolivand.
Ia menambahkan, sedikitnya 12 tenaga kesehatan tewas dan lebih dari 90 lainnya terluka. Ratusan korban jiwa lainnya, termasuk anak-anak dan 231 perempuan, juga dilaporkan meninggal dunia sejak konflik berlangsung.
Eskalasi konflik ini memicu kekhawatiran global, terutama terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan jalur distribusi energi dunia.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















