Moskow, Aktual.com – Iran membatasi akses Selat Hormuz hanya untuk kapal-kapal dari negara yang dianggap sahabat, termasuk Rusia, China, India, Pakistan, dan Irak. Langkah ini diambil di tengah ketegangan militer setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan melalui saluran Al Mayadeen bahwa Teheran tidak memiliki alasan untuk mengizinkan kapal dari negara yang dianggap musuh melintasi selat strategis tersebut.

“Kami mengizinkan kapal-kapal dari negara sahabat untuk melewati Selat Hormuz, sementara kapal musuh tidak diperkenankan,” ujar Araghchi.

Akibat eskalasi ini, sekitar 1.900 kapal komersial terhenti di Teluk Persia dan sekitarnya. Data MarineTraffic pada 20–22 Maret menunjukkan kapal-kapal tersebut terdiri dari 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak atau produk kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak, dan 211 kapal tanker minyak mentah.

Selain itu, terdapat 177 kapal kargo umum, 174 kapal kontainer, 98 kapal pengangkut gas petroleum cair, 42 kapal pengangkut aspal atau bitumen, serta berbagai jenis kapal lain seperti Ro-Ro dan tanker LPG.

Sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal-kapal yang tertahan, menurut perusahaan analisis Vortexa. Perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, melaporkan enam kapalnya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia akibat ketegangan ini.

Blokade de facto Selat Hormuz menyebabkan tarif angkutan laut melonjak. Direktur analisis maritim Baltic and International Maritime Council, Filipe Gouveia, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar, durasi penutupan selat, dan jumlah kapal yang diizinkan melintas menjadi faktor utama.

Sejak 27 Februari, Baltic Dirty Tanker Index naik 49 persen, sedangkan Baltic Clean Tanker Index melonjak 78 persen hingga 20 Maret. Pasar kontainer juga mengalami kenaikan tarif signifikan.

Secara normal, sekitar 30 persen ekspor minyak global, 4 persen kargo curah kering, dan 3 persen volume kontainer melintasi Selat Hormuz. Namun, hanya sebagian ekspor dari Teluk Persia dapat dialihkan ke jalur alternatif, sementara kapasitas jalur darat terbatas. Saat ini, sekitar 5,5 persen armada kapal tanker dunia dan 1,5 persen armada kapal kontainer kargo kering berada di kawasan Teluk Persia.

Blokade Selat Hormuz menimbulkan tekanan besar terhadap perdagangan energi global, mendorong kenaikan harga bahan bakar, dan memperketat rantai pasokan minyak serta gas dari Timur Tengah ke pasar internasional. Para analis memperingatkan bahwa situasi ini berpotensi memicu gangguan ekonomi lebih luas bila konflik tidak segera mereda.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi