Selat Hormuz, Iran. Aktual/HO

Jakarta, aktual.com – Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya militer Iran menanggapi keras ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berencana menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik di Iran. Pihak Iran menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk retorika yang tidak berdasar.

“Retorika yang kasar, arogan, dan ancaman tanpa dasar dari presiden AS yang delusional itu tidak akan menjadi kompensasi bagi aib dan penghinaan Amerika di kawasan Asia Barat,” kata juru bicara tersebut sebagaimana dilansir Aljazeera, Selasa (7/4/2026).

Pernyataan itu disampaikan melalui media pemerintah Iran. Jubir tersebut juga menegaskan bahwa ancaman dari Trump tidak akan mampu menutupi apa yang mereka sebut sebagai kegagalan dan “penghinaan” Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Sebelumnya, Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Ia memperingatkan konsekuensi serius jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

“Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, seperti dilansir AFP, Sabtu (4/4).

“Waktu hampir habis — 48 jam sebelum semua Neraka akan menimpa mereka,” kata Trump, sembari menambahkan: “Segala kemuliaan bagi TUHAN!”

Ancaman tersebut merupakan kelanjutan dari pernyataan Trump pada 21 Maret lalu yang menyebut akan menghancurkan infrastruktur energi Iran, dimulai dari pembangkit listrik terbesar, apabila Teheran tidak segera membuka Selat Hormuz tanpa syarat dalam waktu yang ditentukan.

Namun, dua hari setelah ancaman awal, Trump sempat menyampaikan bahwa pembicaraan dengan otoritas Iran berlangsung secara positif. Ia kemudian menunda rencana serangan selama lima hari.

Penundaan tenggat waktu kembali dilakukan hingga batas akhir yang ditetapkan pada Senin malam waktu setempat.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain