Pegawai SPBU mengisi BBM Pertalite
Pegawai SPBU mengisi BBM Pertalite

Jakarta, Aktual.com – Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menghitung Indonesia akan mengalami Inflasi tertinggi sejak tahun 2015 jika Isu kenaikan harga harga bbm jenis Pertalite dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per liter jadi dilaksanakan oleh pemerintah.

Menurutnya, hal ini akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat, dan meningkatkan jumlah orang miskin baru.

“Ekonomi 40 persen kelompok rumah tangga terbawah dikhawatirkan akan semakin berat. Ditambah lagi, 64 juta UMKM bergantung pada BBM subsidi,” ujarnya.

Bhima melanjutkan pemerintah harus memikirkan efek kenaikan harga terhadap UMKM karena BBM subsidi bukan hanya untuk kendaraan pribadi, tapi dipakai untuk kendaraan operasional UMKM.

Ia menyarankan pemerintah sebaiknya menunda proyek infrastruktur dan mengalokasikan dana untuk menambah subsidi energi. Lalu, mengalihkan sebagian dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk subsidi energi.

Selain itu, melakukan penghematan belanja pegawai, belanja barang dan jasa, termasuk transfer ke daerah. “Pemerintah dibekali dengan UU darurat keuangan, di mana pergeseran anggaran bisa dilakukan tanpa persetujuan DPR,” terang dia.

Sebagai Informasi, Isu soal kenaikan harga BBM bersubsidi menguat belakangan ini. Isu salah satunya dihembuskan oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.

Terkait dengan rencana kenaikan itu, Bahlil sudah meminta tolong ke media untuk menyampaikan ke masyarakat soal isu kenaikan itu.

Ia mengatakan kenaikan harga BBM sangat terbuka mengingat harga minyak dunia sekarang ini cukup tinggi. Untuk harga minyak mentah berjangka Brent saja misalnya, per hari ini mencapai US$94,30 per barel.

(Dede Eka Nurdiansyah)