Pemilihan Rektor ISBI Bandung

Bandung, Aktual.com – Kasus plagiasi mendadak mencuat di Institusi Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung menjelang pemilihan rektor baru kampus seni terkemuka di Jawa Barat ini dalam beberapa pekan kedepan.

Seperti diketahui, jabatan Rektor ISBI Bandung akan berakhir pada 9 September 2022 mendatang. Melalui Seleksi Terbuka Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Utama (Pemilihan Rektor) Periode 2022-2026, panitia segera memulai proses seleksi.

Namun ditengah proses pemilihan rektor tersebut muncul isu tak sedap. Salah seorang Guru Besar Seni Pertunjukan di kampus itu berinisial EC, diduga telah melakukan praktek plagiarisme.

“Sebuah institusi yang kita banggakan, tentu sangat disayangkan bila memiliki seorang guru besar yang melakukan praktek anti intelektual yang memalukan: plagiarisme,” kata Koordinator Masyarakat Anti Plagiarisme Indonesia, M. Subhan di Bandung, Minggu (19/6) sore.

Berdasarkan data yang ada, kata dia, dugaan plagiasi itu terdapat pada tulisan EC, dengan buku berjudul ‘Perempuan Indonesia Dulu dan Kini’.

“Hal tersebut tampak dalam artikel bertajuk: Rika Rafika & Rita Tila Sinden di Era Globalisasi. Dimana tulisan ini dianggap memplagiasi tulisan yang berasal dari wikipedia dan sumber laman internet: blogspot,” sambungnya.

Kesamaan tulisan EC, terlihat jelas saat membahas jasa Titim Fatimah terhadap Pemda Sumbang. Serta tulisannya mengenai sosok seniman Tati Saleh.

Beberapa tulisan EC yang dianggap menjiplak dari berbagai sumber tersebut antara lain sebagai berikut. Pertama, Tulisan EC Soal Titim Fatimah. “Untuk menghargai jasa Titim Fatimah, Pemda Subang juga menyelenggarakan pasanggiri sinden sunda dengan tajuk “Piala Titim Fatimah” pada tahun 2002 dan 2004. (116)”. Tulisan EC serupa dengan narasi yang ditemukan dalam: https://www.kotasubang.com/23/subang-yang-terlupakan.

Kedua, tulisan EC Soal Rika Rafika.  “Rika Rafika mulai terjun ke dunia rekaman pada tahun 1996, hingga sampai saat ini sudah mengeluarkan beberapa album lagu Degung, lagu Jaipongan, dan Pop Sunda, di antaranya “Dalinding Asih”, “Bentang Midang”, “Rujak Cuka”, Cimata Cinta, Bangbung Hideung-Banondari, Karedok Leunca, dan Kalakay Murag. (124).

Tulisan serupa ternyata terlihat pula dalam laman: https://www.wisatabdg.com/2015/01/alamat-dan-kontak-manajemen-penyanyi.html.

Menyikapi isu plagiarisme itu, Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Een Herdiani mengungkapkan dalam menentukan suatu karya ilmiah itu adalah hasil jiplakan atau tidak, membutuhkan tindakan yang serius. Tidak bisa asal-asalan dalam menilainya.

Een menjelaskan plagiarisme atau aksi penjiplakan tentu, bukan sebuah kerja-kerja akademisi yang baik.

“Plagiasi itu pastinya, tindakan yang tidak bagus,” ucapnya kepada wartawan di Gedung Rektorat ISBI Bandung, Senin (13/6).

“Sejauh mana dan seperti apa, kita harus merujuk pada peraturan,” jelasnya.

Dia menerangkan men-cap sebuah karya ilmiah mengandung unsur plagiat atau menjiplak hasil orang lain, penilaian tidak bisa terburu-buru.

“Tidak bisa gegabah dalam menentukan (hasil karya) itu plagiasi atau tidak,” tambahnya.

Lantaran, menurut Een, di dalam dunia pendidikan itu sendiri sudah terdapat sejumlah aturan-aturan yang mengikat terkait hal tersebut.

“Karena kita harus (memeriksa) dengan yakin terlebih dahulu. Apakah betul (karya) itu dianggap sebagai plagiasi?” pungkasnya.

(Nurman Abdul Rahman)