Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo (Jokowi) didesak segera menunjuk Jaksa Agung untuk mengisi kekosongan kepemimpinan semenjak di tinggal Basrief Arief pada 20 Oktober bulan lalu. Sebab, peran Jaksa Agung sangat mempengaruhi penyelesaian sejumlah perkara yang ditangani Kejaksaan Agung (Kejagung).
Belakangan kencangnya tarik menarik apakah jabatan orang nomor satu di kejaksaan itu akan di jabat oleh internal, maupun eksternal kejaksaan menjadi faktor molornya pengumuman calon Jaksa Agung. Alasan itu, lantaran sejumlah nama kandidat, baik dari internal maupun eksternal sama kuat dan berpengalaman di bidang hukum.
Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Universitas Gajah Mada (UGM), Fariz Fachryan berpendapat, alangkah baiknya Jokowi memilih calon Jaksa Agung dari pihak internal. Selain berpengalaman, calon dari internal dinilai mampu membenahi penanganan kasus yang selama ini belum terselesaikan.
“Saya kira jika ingin melakukan pembenahan yang cepat di Kejaksaan Agung, Jokowi harus menunjuk pihak internal yang berpengalaman sebagai Jaksa Agung,” kata Fariz saat dikonfirmasi, Jumat (14/11).
Pihak internal kata Fariz, diyakini dapat memberi perubahan baru di lingkungan Korps Adhyaksa. Mereka tak perlu memakan waktu lama membenahi segala persoalan yang selama ini menjadi kendala dalam penyelidikan maupun penyidikan. “Pihak internal bisa bekerja dengan cepat membenahi Kejagung. Karena mereka sudah mengetahui seluk-beluk Kejagung,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang beredar, dua kandidat kuat dari internal masuk dalam catatan. Nama Pelaksana Tugas (PLT) Jaksa Agung Andhi Nirwanto dan Jampidsus Kejagung Raden Widyo Pramono dikabarkan dekat sebagai calon kuat.
Jika dilihat dari pengalaman dan rekam jejak, Andhi dinilai lebih layak sebagai pengganti Basrief memimpin Kejaksaan. Apalagi belakangan dikabarkan Andhi telah menghadap Jokowi ke istana presiden.
Sejumlah prestasi Andhi juga menjadi catatan lain. Selaku Tim Pemburu Aset dan Buronan Koruptor, Andhi pernah mengekstradisi buronan Tipikor Andrian Kiki Ariawan dari Perth Australia dan terpidana Tipikor mantan Dirut TVRI Sumita Tobing.
Selain itu Andhi juga pernah melakukan penyitaan aset terpidana Tipikor mantan Bupati Lampung Timur, Satono. Ketika menjabat Jampidsus, Andhi berhasil menangani penyelidikan sebanyak 3.353 perkara, penyidikan 4.783 perkara, dan penuntutan 5.033 perkara.
Kemudian, menyelamatkan keuangan negara untuk perkara di gedung pidana khusus Kejagung sebesar Rp 88 M + USD 7.600, dan untuk seluruh Indonesia Rp 905 M. Selain itu juga mengeksekusi terpidana Komjen Susno Djuaji dan Teddy Tengko (bupati Kepulauan Aru).
“Kalau melihat dua orang ini bagus sekali. Tapi harus dilihat dari rekam jejaknya. Karena secara pengalaman, orang tersebut pasti bisa menggambar masalah apa saja yang dihadapi institusi Kejaksaan,” katanya.
Meski begitu, Fariz enggan memprediksi siapa diantara dua kandidat internal itu yang bakal dipilih Jokowi. Dia meyakini Jokowi tidak akan keliru memilih sosok yang tepat menjadi Jaksa Agung.
“Kami sulit memprediksi siapa calon yang akan ditunjuk pak Jokowi. Karena pak Jokowi sedikit tertutup dalam menentukan Jaksa Agung. Saya yakin Jokowi bakal menunjuk orang yang lebih berpengalaman,” ujarnya.
Pakar Hukum Pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar sependapat. Dia meyakini, sebuah pengalaman yang dimilki seorang kandidat Jaksa Agung punya pengaruh besar. Sebab itu, dia menyarankan Jokowi lebih melihat track rekort para kandidat yang kiranya berpengalaman di bidang hukum.
Disinggung soal dua sosok kuat di internal, dia enggan berandai-andai. Menurut dia, baik Andhi maupun Widyo termasuk calon yang memiliki kriteria layak sebagai pengganti Basrief. “Kalo dilihat dari pengalaman, Andhi cukup baik. Namun jika dilihat dari usia, Widyo lebih terbilang muda,” kata Fickar.
Meski dinilai layak dan berpengalaman, namun Fickar tak memberi garansi, apakah Andhi bakal melakukan amanah sesuai harapan presiden. Karenanya Jokowi diharapkan mempunyai pertimbangan yang matang.
“Tidak hanya melihat intregritas. Meski pak Andhi orang yang berpengalaman, namun bisa saja ada pertimbangan lain,” tandasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Nebby

















