Jakarta, Aktual.co — Koordinator ICW Ade Irawan mengatakan, masyarakat menaruh harapan kepada Presiden Joko Widodo untuk menunjuk Jaksa Agung yang profesional dan berlatar belakang jaksa atau hukum.
Menurutnya, jika Presiden Jokowi menunjuk seorang Jaksa Agung dengan latar belakang politikus, maka penegakan hukum dan pemberantasan korupsi tak mungkin akan berjalan baik.
“Jika Jaksa Agung berlatar belakang dari partai politik, saya pesimis penegakan hukum dan pemberantasan korupsi dapat dilaksanakan dengan baik,” kata Ade.
Sementara menurut Wakil Ketua Komisi III DPR periode 2009-2014, Muhammad Aziz Syamsuddin menyarankan agar Presiden Jokowi memilih Jaksa Agung dari internal Kejaksaan.
“Lebih baik dari Internal,” kata Aziz saat dihubungi, Senin (27/10).
Sedangkan menurut koordinator TPDI Petrus Selestinus, Presiden Joko Widodo harus benar-benar menggunakan hak prerogatif-nya secara penuh dan berani menolak intervensi dari Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputir maupun Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika akan mengangkat seorang Jaksa Agung. 
Alasannya, karena Kejakaan Agung masih memiliki hutang atau tunggakan perkara lama (sebelum lahirnya KPK) yang penanganannya hingga saat ini masih tertunda tanpa ada pertanggungjawaban secara hukum oleh para jaksa agung sebelumnya. 
“Katakanlah kasus Cessie Bank Bali yang melibatkan sejumlah pimpinan/kader parpol serta sejumlah kasus lainnya, maka hal itu dikhawatirkan Jaksa Agung yang baru nanti sebagai titipna Megawati atau Jusuf Kalla demi kepentingan/nepotisme atau melindungi kerabat, sahabat dan golongan dalam satu Partai atau dalam satu kelompok bisnis,” kata dia saat berbincang dengan wartawan di Jakarta, Senin (27/10).
Petrus berpendapat, calon jaksa agung kelak sebelum ditetapkan sebaiknya terlebih dahulu dikonsultasikan dengan KPK. Sebab, Kejaksaan sewaktu-waktu bisa menjadi obyek pemeriksaan KPK terkait kasus korupsi atau dalam rangka tugas koordinasi dan supervisi.
“Apabila Kabinet Kerja Jokowi ingin berhasil memberantas korupsi, maka carilah sosok jaksa-jaksa muda diinternal Kejaksaan Agung yang punya nyali, pintar dan rada gila berikan tugas khusus, awasi pekerjaannya bila tidak becus, langsung copot dan ganti hingga Jokowi benar-benar menemukan Jaksa Agung yang benar-benar rada gila dalam memberantas korupsi,” kata dia.

()