Pejalan kaki melintasi Pelican Crossing untuk menyebrang di Bundaran HI, Jakarta, Senin (30/7). Pelican Crossing tersebut difungsikan sebagai pengganti Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) secara sementara, nantinya dilokasi tersebut akan dibangun penyebrangan bawah tanah. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Berjalan kaki rutin memiliki sejumlah manfaat antara lain dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan sistem metabolisme, menjaga stamina dan ketahanan tubuh, serta membantu mengendalikan penyakit bawaan, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung, kata Advisor Rey, dr. Astrid Wulan Kusumoastuti.

Astrid melalui siaran pers, Senin (10/10), melanjutkan, jalan kaki juga dapat mencegah pengeroposan tulang dan kerusakan sendi, membantu mengurangi stres, menekan risiko kecemasan, dan depresi.

“Selain berjalan kaki, hal rutin yang perlu dilakukan adalah minum air putih untuk mencegah hidrasi dan mengganti cairan yang hilang,” katanya.

Berjalan kaki dapat dilakukan dengan kecepatan sedang hingga cepat, dimulai dari 5.900 – 7.500 langkah hingga terbiasa mencapai 10.000 langkah setiap hari dan dilakukan 5-7 hari seminggu.

Astrid menyarankan, bagi yang belum terbiasa dapat melakukan secara bertahap, tidak perlu langsung memaksakan intensitas tinggi agar terhindar dari risiko cedera.

Dia mengatakan, kondisi tubuh seseorang tidak bersifat konstan sehingga adakalanya imunitas turun dan tubuh juga secara alami akan mengalami proses penuaan. Oleh karena itu, seseorang perlu melakukan latihan fisik, yakni gerakan tubuh berulang untuk meningkatkan kebugaran jasmani yang dilakukan dengan terencana dan terstruktur, serta berkelanjutan.

“Latihan ini minimum dilakukan 150 menit seminggu, salah satunya dapat dengan berjalan kaki,” ujarnya.

Astrid mengingatkan, menjalankan gaya hidup sehat menjadi hal penting karena tubuh kita dapat terpapar risiko penyakit. Menurut dia, penyakit semakin mudah menyerang karena modernisasi telah mengubah lingkungan dan perilaku menjadi semakin tidak sehat.

“Kebiasaan merokok dan alkohol bahkan obat terlarang, jarang berolahraga, kualitas tidur dan pola tidur yang buruk, serta kelebihan makan dengan kalori dan gula yang tinggi telah memperparah jumlah prevalensi penyakit tidak menular terutama menyerang para pekerja dan generasi muda,” ucap dia.

Dia melanjutkan, pola hidup tidak sehat juga berpotensi membuat orang rentan mengalami gangguan kecemasan hingga timbul keinginan mencelakakan diri, perilaku berisiko di jalan raya, dan hubungan keluarga tidak harmonis.

Selain pola makan yang buruk, Astrid juga mengingatkan soal minimnya melakukan latihan fisik. Saat ini, orang-orang semakin jarang bergerak dan sudah sangat tergantung pada kemudahan teknologi.

“Hidup saat ini sangat dimudahkan dengan adanya smartphone. Membeli makan dan belanja dapat dilakukan hanya dengan memesan melalui aplikasi. Pilihan menu dan gerai juga banyak, belum termasuk tawaran diskon – tentu menyenangkan dan menghemat waktu,” pungkas Astrid.

(Warto'i)