Ilustrasi- Orang melakukan dosa syirik

Jakarta, aktual.com – Sebagai manusia, kita selalu melakukan kesalahan, dan tanda kebaikan sejati adalah ketika kita memiliki keinginan untuk meminta pengampunan atas kesalahan kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap manusia pasti melakukan dosa, dan sebaik-baik orang yang melakukan dosa adalah orang yang bertaubat,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dari perkataan Rasulullah saw., kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun individu di dunia ini yang terbebas dari perbuatan dosa. Namun, Rasulullah saw. memberikan harapan bagi umatnya yang ingin memperbaiki diri dari dosa, menyebut mereka sebagai “orang terbaik yang melakukan dosa.”

Oleh karena itu, orang terbaik adalah mereka yang sering bertaubat dari kesalahan-kesalahan mereka.

Para ulama membagi dosa menjadi dua kategori, yaitu dosa kecil dan dosa besar. Dosa kecil mencakup tindakan-tindakan dosa yang terjadi karena lupa atau kelalaian, sementara individu yang bersangkutan terus-menerus menyesalinya, sehingga kesenangan yang mereka dapatkan dari dosa tersebut semakin memudar.

Sementara itu, dosa besar merujuk pada dosa-dosa yang berpotensi mendatangkan hukuman di dunia atau yang diancam oleh Allah dengan neraka, kutukan, atau kemurkaan-Nya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan”. Para sahabat bertanya, “Apa itu?”. Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri dari peperangan, menuduh berzina wanita-wanita mukminah yang suci,” (HR. Bukhari dan Muslim).

– Pertama, Syirik

Permasalahan syirik telah sering kali menjadi perbicaraan, bahkan beberapa dari kita mungkin sudah merasa jenuh mendengarnya. Meskipun kita telah sering mendengar tentang isu ini, banyak di antara kita yang masih terlibat dalamnya, entah dengan kesadaran atau tanpa kesadaran.

Padahal Allah telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Ia mengampuni dosa yang levelnya di bawah syirik bagi siapa yang Ia kehendaki,” (QS. An-Nisaa : 48).

Bahkan di dalam ayat lain, Allah mengancam pelaku kesyirikan dengan neraka, sebagaimana firman Allah Swt,

“Barangsiapa yang menyekutukan Allah, sungguh Allah telah mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka,” (QS. Al Maa-idah : 72).

Allah dengan sungguh-sungguh menegaskan bahwa tindakan syirik adalah sesuatu yang dapat membawa seseorang masuk ke dalam api neraka.

– Kedua, Sihir

Sihir adalah hal yang sudah dikenal luas dalam masyarakat, dengan berbagai jenis seperti jengges, pelet, santet, dan sebagainya. Ternyata, praktik ini telah ada sejak lama, seperti yang Allah ceritakan dalam kisah peperangan Nabi Musa dengan penyihir Fir’aun, yang berakhir dengan penyihir-penyihir tersebut disalibkan oleh Fir’aun karena keimanan mereka, sebagaimana diceritakan dalam surat Thaha.

– Ketiga, Membunuh jiwa tanpa adanya kebenaran

Saat ini, kita dengan mudah menyaksikan berbagai kasus pembunuhan dengan berbagai alasan, mulai dari utang, perampokan, hingga yang lebih tragis, seperti pertengkaran atas tempat parkir, yang mengakibatkan beberapa individu saling melakukan tindakan pembunuhan.

Sudah lupakah kita dengan firman Allah Swt,

“Barangsiapa yang membunuh seorang mu’min secara sengaja, maka balasannya ialah neraka jahannam yang ia kekal didalamnya, Allah murka kepadanya dan melaknatnya. Lalu Ia akan menyiapkan siksaan yang besar,” (QS. An Nisaa : 93).

– Keempat, Memakan harta anak yatim

Salah satu dosa besar yang sering terjadi adalah mencuri harta anak yatim. Allah Swt berfirman,

“Barangsiapa yang memakan harta anak yatim secara zhalim, maka sesungguhnya mereka telah memasukkan api ke dalam perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala,” (QS. An Nisaa : 10).

Jika kita dipercayakan untuk mengelola dana anak yatim, kita tidak boleh dengan sewenang-wenang memanfaatkannya secara tidak adil.

Bahkan lebih jauh, kita tidak boleh mencuri atau mengambil secara curang harta tersebut, karena Allah telah mengancam mereka yang melakukan tindakan tersebut dengan neraka yang menyala-nyala.

Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dan bertanggung jawab terhadap harta anak yatim.

– Kelima, Memakan riba

Riba bisa disamakan dengan duri yang menusuk banyak orang. Namun, yang anehnya, banyak dari mereka yang tidak merasa sakit oleh tusukan itu; bahkan, mereka merasa kenikmatan dari tusukan-tusukan tersebut. Bunga yang ditawarkan oleh bank-bank konvensional memiliki daya tarik khusus bagi mereka yang tidak memahaminya.

Namun, kita harus sadar bahwa riba adalah penyebab konflik yang Allah Swt nyatakan kepada hamba-Nya, sesuai dengan firman-Nya,

“Maka jika mereka tidak mengerjakannya (meninggalkan riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (TQS. Al Baqarah : 279).

– Keenam, Melarikan diri dari peperangan

Sungguh pembaca yang budiman, sikap di atas merupakan sikap yang dibenci oleh Allah. Allah mengancamnya dengan firman-Nya,

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk siasat perang atau hendak bergabung dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan kemurkaan Allah, dan tempat kembalinya ialah neraka jahannam, dan amat buruklah tempat kembalinya,” (QS. Al Anfal :16).

– Ketujuh, Menuduh wanita mu’min melakukan zina

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita baik-baik yang lemah dan beriman berbuat zina, maka mereka dilaknat di dunia dan di akhirat dan bagi mereka siksaan yang besar,” (QS. An Nur : 23).

Barangsiapa menuduh seorang wanita mukmin melakukan perzinaan tanpa memiliki empat orang saksi yang dapat membenarkannya, maka dia akan menghadapi hukuman dari Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, kecuali jika dia bertaubat.

Jika Anda menjauhi ketujuh dosa tersebut, Anda akan masuk surga. Allah Swt berfirman,

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya akan kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan kami masukkan engkau ke tempat yang mulia (surga),” (QS. An Nisa : 31).

(Rizky Zulkarnain)