Oleh: Arif. W
Jakarta, aktual.com – Muslim Jawa itu hanya Islam lapisan permukaan, demikian menurut catatan Raffles di History of Java. Ia seperti baju putih, tipis dan bolong-bolong, sehingga tidak bisa menyembunyikan warna asli kulit yang masih Hindu Budha, lanjut van Lith, seorang Jesuit Belanda yang didaulat menjadi bapak Misionarisme di Indonesia.
Karena orang Jawa itu beragam agama, dengan ketaatan yang rendah pada Islam, maka dalam mencari ciri-ciri Jawa, Frans Magnis Suseno dalam buku Etika Jawa -sebuah buku rujukan akdemik dalam mempelajari Jawa-, hanya mempergunakan bahan-bahan tentang orang Jawa dengan orientasi dasar pra Islam.
Disitulah inkonsistensi seorang Romo Magnis, demikian komentar Yai Irfan Afifi saat saya sowan ke padepokan Langgar. Menyebut etika Jawa itu bersumber pra Islam tapi yang disebutkan adalah sikap sabar, ikhlas dan tawakal, lanjut beliau sedikit terkekeh. Tapi ya dimaklumi dikitlah mas, kan beliau orang Jerman, saya yang lumayan suka pada tulisan-tulisan Frans Magnis, pura-puranya sedikit membela.
Yai Irfan Afifi dalam salah satu tulisannya (saya lupa di buku yang mana) menyebut perjanjian Giyanti sebagai deklarasi Islamnya bangsa Jawa, yang kalau menurut Ricklefs ditandai dengan terbentuknya sintesis mistik Islam Jawa.
Akan tetapi, kata Philip van Akkeren, pasca kekalahan Diponegoro dalam Perang Jawa, ada semacam inferiority complex pada para bangsawan yang mulai meragukan kemampuan politik Islam dalam menjaga wibawa bangsa Jawa.
Pada masa inilah, gagasan The Greater India, dimana India sebagai guru peradaban bangsa Nusantara wabil khusus Jawa mengemuka. Sebelumnya Raffles telag serius membangkitkan peradaban candi yang kemudian dilanjutkan para indolog kolonial dan misionaris pasca Perang Jawa dengan merumuskan Jawa Essensial.
Bagi para indolog kolonial, masuk Islamnya bangsa Jawa adalah sebuah kesalahan sejarah yang mengakibatkan jatuhnya pamor Jawa setelah era kemegahannya pada masa Majapahit.
Islam adalah perusak Jawa, karenanya ia bukan Jawa dan untuk kembali kepada kemegahan, bangsa Jawa harus kembali berkiblat pada Majapahit.
Optmisme Theodore Pigeaud yang dikutip Yai Irfan Afifi dalam buku, Saya, Jawa dan Islam menarik untuk disimak.
“Perubahan Minat para sarjana Jawa dari teks Islam ke kakawin Jawa Kuno, dan perkembangan lanjut kesusasteraan Kraton Surakarta di abad ke-18 dan abad ke-19, serupa dengan kelahiran kembali kesusasteraan Jawa kuno. Efeknya, karena para pujangga akhirnya berbelok dari Islam asing ke Jawa Hindu Budha aslinya (dan akhirnya) puisi Jawa telah lahir.”
Pandangan yang mendikhotomikan Jawa Hindu Budha sebagai budaya asli dengan Islam sebagai agama asing, adalah ciri dari karya-karya indolog dan misionaris kolonial yang tergabung dalam Instituut voor de Javaanschee Taal) yang didirikan tahun 1832 di Surakarta.
Kotak-kotak kebudayaan yang dirumuskan pada era itulah yang menjadi dasar perumusan etika Jawa oleh Romo Magnis. Sebelum Romo Magnis, ada Cliffort Geertz anthropolog yang kemudian merumuskan tiga varian agama Jawa, Santri, Abangan dan Priyayi. Santri keagamaannya berporos pada orthodoksi Islam, Abangan pada slametan dan penghormatan pada para leluhur dan kaum priyayi mengakarkan dirinya pada tradisi Hindu Budha.
Kesalahan pandangan seperti itu, kalau menurut Marshal GS Hodgson dalam The Venture of Islam adalah kesalahan sistematik yang besar, karena ia hanya melihat Islam dari kerangkat yang disodorkan kaum modernis yang cenderung skripturalis.
Kritik senada disamapaikan Prof. Mitsuo Nakamura yang menunjukkan bahwa tata nilai masyarakat Jawa itu berasal dari Islam.
”Istilah-istilah yang menjadi kunci tata nilai masyarakat Jawa ini sebenarnya berasal dari bahasa arab dan bersumber dari ajaran Islam, dan pemakaian istilah-istilah tersebut dalam bahasa Jawa kontemporer sangat serasi dengan pengertian religius aslinya. Istilah sabar umpamanya, berasal dari bahasa arab sabr. Istilah ini muncul dalam Al Qur’an dengan makna Sabar (Al Qur’an 23:111; 28:54; 38:17) dan tawakkal (Al Qur’an QS 12:18). Istilah ikhlas juga berasal dari bahasa arab yang berarti ”berbakti kepada Tuhan”. Istilah ini juga sering muncul dalam Al Qur’an (Al Qur’an 2:139; 4:146, 10:23), sedangkan surat ke 112 dalam Al Qur’an dinamai Surat Al Ikhlas. Surat pendek ini sangat populer di tengah masyarakat muslim karena keindahan dan kekuatannya, serta sering dibaca dalam Sholat.
Kata slamet, yang jadi asal istilah slametan –yang menurut Geertz menjadi inti ritual abangan- pada awalnya adalah sebuah istilah Isam…. kata slamet berasal dari bahasa Arab salam (yang berarti damai atau salam berasal dari kata salima yang berarti menjadi baik dan selamat). Sir Thomas Raffles menyebutkan bahwa istilah slametan masyarakat Jawa berasal dari kata salamatan dalam bahasa Arab. Itulah sebabnya mengapa dalam slametan do’a untuk kesejahteraan dan kemakmuran (do’a slametan) selalu dibacakan. ”
Bagi masyarakat tradisional Jawa tentu tidak asing dengan do’a yang dimaksud oleh Raffles tadi, yang selalu dibacakan pada saat upacara slametan. ”Allahumma Innaa nas’aluka salaamatan fid diin” dimana kata selamatan itu berasal. Jadi kata Mark Woodward, yang benar, Islam itu telah merasuk sampai sudut tersembunyi dari orang Jawa dan Hindu Budha itu hanya sedikit tersisa.
Hanya saja, konsekuensi logis dari penyebaran agama secara damai, itu membutuhkan waktu yang panjang dan sebagaimana kata Ricklefs, membutuhkan tradisi-tradisi transisi yang makin mendekatkan orang Jawa kepada Islam.
Ada sebuah proses yang berkesinambungan, dimana pesantren mempunyai peran penting. Dalam tradisi pesantren Jawa, dialog antara konsep Islam dengan bahasa lokal bisa dilihat dari sistem terjemah antar baris yang menggunakan huruf pegon dalam bahasa Jawa baku. Sistem ini terbukti telah mampu meresapkan Islam sampai ke lapisan paling dasar dalam masyarakat Jawa.
Demikianlah cara para wali mengawal proses Islamnya bangsa Jawa, sebagaimana diungkapkan oleh KH. Sa’id Aqil Siroj M.A.
”Strategi para wali dalam mengembangkan ajaran islam di bumi Nusantara terdahulu dengan beberapa langkah strategis,
Pertama tadriji (bertahap), tidak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semuanya melalui proses penyesuaian. Bahkan tidak jarang secara lahir bertentangan dengan Islam, tapi ini hanya strategi, mereka dibiarkan minum tuak, makan babi atau mempercayai Sang Hyang, secara bertahap mereka diluruskan.
Kedua, taqlilut taklif (memperingan beban), tidak langsung disuruh sembahyang atau puasa, tetapi semampunya saja, sehingga setiap orang mampu melaksanakan.
Ketiga ’adamul haraj (tidak menyakiti) para wali membawa Islam tidak dengan mengusik tradisi mereka, bahkan memperkuatnya dengan cara Islam. Kalangan pesantren sejak awal berusaha meneruskan dan mengembangkan warisan tradisi para wali ini. ”
Pada beberapa kalangan, strategi dakwah ini dikecam habis-habisan, akan tetapi yang sering dilupakan para pengecam, bahwa para ulama merumuskan strategi dakwah ini untuk mengislamkan sebuah bangsa besar dan berperadaban tua, bukan sekedar islamnya orang per orang.
Mudah-mudahan saja, mereka yang sering mengecam dan selalu mengaitkan budaya Jawa dengan Hindu Budha tidak didasarkan pada sentimen afiliasi, sehingga daripada sependapat dengan KH. Said Agil Siroj, sekalian saja mengikuti pendapat Romo Van Lith. 😆
Selain itu, strategi kebudayaan itu lebih mendasar bila dibanding penguasaan politik. Dalam Atlas Walisongo, Yai Agus Sunyoto mencontohkan India, yang berada di bawah kesultanan Islam selama 500 tahun, penduduknya yang masuk Islam hanya di kisaran 20 %. Kegemilangan Andalusia, kini hanya bisa dilihat dari jejak kemegahan Alhambra.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















