Penutupan Porseni NU di GOR Bhinneka Sritex Manahan Solo, Sabtu (21/1).

Solo, Aktual.com – Kontingen Provinsi Jawa Timur menjadi juara umum pada Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) NU yang diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah, 15-21 Januari dengan raihan 22 medali emas, 12 perak, dan 20 perunggu.

Di peringkat kedua diduduki DKI Jakarta dengan raihan 11 emas, sembilan perak, dan sembilan perunggu dan di peringkat ketiga tuan rumah Jawa Tengah dengan delapan emas, 12 perak, dan 18 perunggu.

“Hari ini Porseni NU sudah menuntaskan semua pertandingan dan lomba, hanya meninggalkan catatan kecil,” kata Ketua Porseni NU Nusron Wahid pada penutupan Porseni NU di GOR Bhinneka Sritex Manahan Solo, Sabtu (21/1).

Menurut dia, selama Porseni NU ada beberapa atlet yang mengalami cedera. Bahkan ada 23 peserta Porseni NU yang menginap di Asrama Haji Donohudan kesurupan.

“Itu tandanya makhluk halus di asrama haji mencintai Porseni,” selorohnya.

Meski demikian, dikatakannya, dari seluruh catatan kecil tersebut bisa diselesaikan dengan baik, tuntas, dan lancar.

“Ini berkat dukungan Pemprov Jateng, Pemkot Surakarta, dan kyai yang mendampingi, serta Kementerian BUMN yang mensponsori kegiatan ini,” katanya menambahkan.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta maaf atas kurang maksimalnya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah daerah.

“PR saya, santri yang kesambet di sana, kudu diresiki (harus dibersihkan). Kami kurang antisipasi adanya demit-demit (makhluk halus),” katanya.

Melihat antusiasme kontingen Porseni NU, ia juga menawarkan penyelenggaraan Porseni NU selanjutnya.

“Antusiasmenya sangat luar biasa.
Mudah-mudahan seluruh atlet dan delegasi bisa pulang ke kampung halaman dengan selamat, dan suatu saat bisa datang ke Solo lagi untuk mengenang peristiwa manis,” katanya menambahkan.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan Porseni NU bukan masalah menang dan kalah namun yang lebih penting adalah seluruh atlet datang ke Solo untuk bersilaturahmi dan melakukan kegiatan bersama-sama.

“Kita akan menghadapi bonus demografi 2030-2035. Kami menginginkan banyak kader NU yang memiliki SDM unggul, mengisi aktivitas penting, baik event negara dan nasional di tahun tersebut. Ini jadi harapan kami semua, ke depan menjadi orang-orang penting, apalagi di jajaran birokrat, apakah tetap membesarkan pesantren atau di tempat-tempat lain,” katanya.

(Arie Saputra)