Palangka Raya, Aktual.com – Sejumlah kalangan menyebutkan resesi ekonomi bakal melanda Indonesia diakhir tahun 2020. Dampak secara signifikan juga terasa di Kalimantan Tengah (Kalteng), apabila prediksi tersebut benar-benar terjadi.

Menurut Pengamat Ekonomi dan juga pensiunan Pegawai Bank Kalteng, Subandi Nusan, salah satu dampak yang akan dirasakan oleh pedagang di pasar yakni penurunan daya beli masyarakat.

“Akibat pelemahan daya beli ini, ikut menyeret pada sektor lainnya. Misalnya, permintaan ikut mengalami penurunan karena pelaku usaha untuk sementara tidak melakukan produksi,” katanya kepada RRI, Jumat (4/9).

Kemungkinan terburuk dari rentetan ini ditambahkan Subandi, bertambahnya angka penduduk miskin di Kalteng. Karena yang mampu bertahan hanyalah masyarakat yang memilik aset banyak. Meski demikan, Subandi meminta masyarakat untuk tidak panik dan selalu berhemat dalam menggunakan uang.

“Kalau di akhir tahun belum juga selesai covid, akan diprediksi resesi dan kita akan tertatih. Nah setelah itu, bagaimana kita bisa bangkit, namun tidak semerta merta selesai Covid-19, bisa langsung normal. Di tahun 2021 perlu recovery. Paling singkat tiga sampai enam bulan, ada juga sampai 3 tahun, kemudian baru kita bisa normal,” tambah Subandi,

Sementara itu, Anggota DPRD Kalteng, Yohanes Fredi Ering menyebut, pemerintah sudah berupaya keras agar negara tidak jatuh ke dalam jurang resesi akibat pandemi Covid-19 dengan mengeluarkan beberapa kebijakan termasuk memberikan bantuan stimulus bagi Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) serta bantuan subsidi kepada masyarakat agar daya beli tidak mengalami penurunan, lantaran sebagai syarat agar tidak terjadi resesi, sektor usaha terus bertahan serta menunjukan pemulihan yang baik.

“Untuk kita di Kalimantan Tengah ya, saya rasa peran pemerintah sangat penting untuk mensuport dana anggaran. Kalau bansos sudah lah ya. Tinggal bagaimana diatur supaya bisa diterima oleh yang sebenarnya sesuai dengan tujuan dari bansos itu,” imbuhnya.

Ditambahkan Fredi, Indonesia saat ini masih belum resmi resesi seperti Amerika Serikat maupun Singapura. Namun, pemerintah provinsi serta masyarakat harus waspada, terhadap potensi pertumbuhan di kuartal III, mengingat ini sudah memasuki bulan September.(RRI)

(Warto'i)