Jakarta, aktual.com – Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menegaskan bahwa peran serta wali murid sangat penting untuk mencegah terjadinya tawuran antarpelajar.

“Tawuran pelajar tidak bisa dibebankan kepada sekolah, tapi semua pihak. Tapi karena tidak ada sistem, risiko yang ditimbulkan akibat dari kekerasan itu terus terjadi setiap tahun, hingga berujung tawuran,” kata Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji dalam keterangan tertulis,  di Jakarta, Selasa (18/1).
Penegasan itu menanggapi maraknya peristiwa tawuran di Jakarta Selatan dalam sepekan terakhir.
Sebelumnya tawuran pelajar di dua lokasi terjadi di kawasan Pondok Labu, Cilandak dan Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (15/1) hingga menyebabkan dua siswa mengalami luka sobek.
Menurut dia, peristiwa itu sangat mencoreng dunia pendidikan.

Karena itu dia meminta Suku Dinas Pendidikan setempat yang memiliki wewenang memantau satuan pendidikan menghadirkan sistem pencegahan tawuran antarpelajar.

“Bagaimana dinas melakukan pendampingan terhadap sekolah?. Bagaimana dinas melibatkan partisipasi seluruh ‘stakeholder’ pendidikan dalam konteks pencegahan kekerasan itu kan tidak ada,” katanya.
Sebelumnya, dua kelompok pelajar SMK hendak tawuran di Pondok Labu di depan kampus Bina Sarana Informatika (BSI), Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat sore.
Pada waktu yang sama, tawuran dua kelompok pelajar juga terjadi di kawasan Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Kapolsek Jagakarsa Komisaris Polisi Wahid Key menuturkan bahwa pihaknya mengamankan sejumlah pelajar yang tawuran di Tanjung Barat tersebut.
“Mereka saling melukai. Jadi, korban adalah pelaku juga. Ada beberapa pelajar juga yang kita amankan,” ujar Wahid.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)