Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo terkesan ‘malu tapi mau’ terkait bantuan lembaga International Monetary Fund (IMF). Pasalnya, Jokowi menyangkal pidatonya pada pembukaan Konferensi Asia Afrika yang mengkritik dan menyinggung lembaga keuangan internasional IMF dan Bank Dunia serta PBB.
“Ada hal yang kontradiktif, satu sisi menentang, satu sisi butuh. Bagus sih pidatonya perlu diapresiasi tapi malah jadi kaya orang teriak-teriak gitu aja, sebetulnya mau. Kaya malu-malu tapi mau, kesel tapi mau minta,” ujar Pengamat Psikologi Politik UI Dewi Haroen saat dihubungi di Jakarta, Selasa (28/4).
Kemudian, kata Dewi, akhirnya membuat orang menganggap sekedar pencitraan di depan masyarakat Indonesia saja.
“Ini jadi bahan ketawaan juga kalau gitu. Jadi antara hanya gertak dengan kenyataan, pidato dan implementasi jadi dua hal yang bertolak belakang,”
“Ini hanya retorika yang betul-betul hanya sekedar retorika. Kalau Soekarno kan, ada gerakan non blok, ini kan nggak ada hanya berakhir pada perayaan KAA aja. Kan sayang akhirnya berhenti di situ aja,” tambahnya.
Menurutnya, Jokowi melakukan hal yang sama dengan apa yang dikritiknya. Sama dengan PBB yang tidak membela rakyat.
“Pak Jokowi ini lucu, menyerang PBB segala macem tapi justru Pak Jokowi di dalam negerinya mementingkan kekuasaan, tidak membela rakyat kecil. Lucu kan, harusnya kalau dia benar menentang PBB, harusnya di dalam negeri kebijakannya semua untuk rakyat kecil, kan begitu. Dia sama aja kaya PBB, melingdungi kapitalis, pemodal, lindungi orang besar,” ungkapnya.
Oleh karenanya, Jokowi diimbau untuk tidak berpidato terlalu keras, terlebih dalam skala internasional.
Artikel ini ditulis oleh:

















