Jakarta, Aktual.co —  Presiden Joko Widodo, Jokowi, meresmikan pabrik smelter nikel milik PT. Sulawesi Mining Investment di Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopo, Morowali, Sulawesi Tengah, dan mengharapkan adanya nilai tambah sebagai akibat pengolahan itu.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi mengharapkan agar kedepannya industri nikel dapat memberikan nilai tambah untuk daerah dengan memproduksi bahan jadi karena bukan hanya mengekspor bahan mentah.

“Sebagai contoh yang disini, untuk bahan baku nikel, ini saat sebelumnya diekspor dalam bentuk bahan mentah di daerah lain juga sama. Ini harus distop, harus ada nilai tambah untuk daerah dan untuk lingkungan daerah,” ujar Presiden Jokowi di Sulteng, Jumat (29/5).

Presiden juga menekankan bahwa jika Indonesia masih sangat tergantung pada ekspor bahan mentah, maka tidak ada nilai tambah untuk Tanah Air dan lingkungan.

Sementara ini pertumbuhan ekspor bahan mentah hanya 30 dolar AS per metrik ton, sedangkan tanah hanya dihargai senilai 30 dolar AS.

“Kemudian sekarang dibikin setengah jadi, harga nikel menjadi 1.300 dolar AS per metrik ton. Nilai tambah yang ditambah ini besar sekali, bisa 40 kali lipat,” ujar Presiden.

Kemudian, Presiden mengimbau pimpinan PT. SMI agar dalam waktu secepatnya enam tahun mendatang bahan mentah sudah bisa dijadikan barang jadi, seperti stainless steel yang harganya bisa mencapai 2.800 per metrik ton.

“Inilah ke depan yang ingin dikerjakan kalau sebuah daerah, ada industri seperti ini larinya ke mana-mana karena perputaran uang sangat besar, bisa dalam bentuk yang kecil-kecil, dari daerah pasok sayur ke lingkungan industri, semuanya bisa uang beredar semakin besar, tidak hanya tergantung pada APBN,” ujar Jokowi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka