Suporter Senegal menyambut bak pahlawan timnasnya yang baru saja menjuarai Piala Afrika 2021 di Dakar, Senegal 7 Februari 2022. (REUTERS/ZOHRA BENSEMRA)

Jakarta, Aktual.com – Beberapa orang bergelayutan di tiang reklame dan lainnya menari di landasan ketika tim sepak bola nasional Senegal mendarat di ibu kota Dakar setelah menjuarai Piala Afrika pertamanya. Semuanya menampilkan wajah riang gembira.

Pemain bintang Sadio Mane mencetak gol penentuan kemenangan melalui tendangan penalti untuk memastikan kemenangan 4-2 Senegal dalam adu penalti setelah selama 120 menit imbang 0-0 melawan Mesir dalam final di Yaounde malam sebelumnya.

Itu kemenangan yang sudah lama ditunggu-tunggu negara Afrika Barat yang dikalahkan Aljazair pada final Piala Afrika 2019 itu. Senegal juga mencapai final turnamen 2002, tetapi kalah adu penalti dari Kamerun.

Suara kembang api, bunyi klakson, dan sorak-sorai terdengar sepanjang malam di Dakar hingga Senin pagi, ketika ratusan orang yang mengenakan kostum timnas atau berbendera Senegal berkumpul di luar bandara guna menunggu kepulangan tim mereka.

“Kami sudah begitu lama kalah dalam turnamen ini. Saya telah menonton tim ini sejak tahun 1970-an, menunggu,” kata Thierno Niane, programmer komputer berusia 60 tahun, yang datang dari pinggiran kota Dakar beberapa jam lalu untuk menyambut tim kesayangannya.

“Tadi malam saya menangis di depan keluarga saya, istri dan anak-anak saya,” tambah dia seperti dikutip Reuters, Selasa.

Musik dansa Senegal bergema dari pengeras suara di atas kerumunan penggemar yang memujanya saat tim keluar dari pesawat untuk disambut bak pahlawan. Jalan-jalan di sekitar bandara dibanjiri pendukung sepanjang mata memandang.

Mereka datang dengan bersepeda, bersepeda motor, mobil, dan berjalan kaki sehingga jalan raya yang sebelumnya sudah sumpek menjadi macet. Di antara mereka ada pejabat pemerintah dan politisi oposisi. Mereka merayakan kemenangan negara bersama satu bangsa.

“Kami senang dan bangga sekali kepada singa kami,” kata pendukung Amina Cisse. “Mimpi kita telah menjadi kenyataan.”

(Antara)

(Dede Eka Nurdiansyah)