Jakarta, Aktual.co —Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali keluarkan ‘jurus’ andalan menghadapi pihak yang mengusik kebijakannya.
Kali ini tudingan dia arahkan kepada ribuan warga Pinangsia Ancol yang Selasa (26/5) malam lalu menggeruduk komplek tempat tinggalnya di Perumahan Pantai Mutiara, Penjaringan, Jakarta Utara.
Dia menyatakan aksi mengepung kediamannya bukanlah murni aksi warga. “Jadi pola ini kita udah hafal. Pola permainan orang yang dudukin ini terutama orang yang punya lahan,” kata Ahok di Balai Kota, Kamis (28/5).
Modusnya, oknum-oknum yang punya lahan mengajak warga yang tinggal di pinggiran kali yang hendak digusur untuk bekerjasama.
“Minta tunda sebulan untuk bongkar sendiri, ternyata satu bulan itu dia mau mengusir yang nyewa. Yang sewa itu ngga ada KTP Jakarta, dia suruh pergi dulu karena misalnya kamu punya sewaan 10 kamu sewa buat orang luar Jakarta, kalau 10 kita hitung ga dapat rusun dong, nyewa,” ungkap Ahok.
Setelah itu, oknum pemilik lahan kata Ahok memasukkan warga yang memiliki KTP Jakarta. Tujuannya agar kebagian rumah susun untuk kemudian disewakan kembali.
“Kalau kamu ngga ada rumah dan rumahmu dibongkar dikasih rusun, kamu langsung pindah ngga? Pasti. Kenapa ngga karena mereka bukan yang butuh rumah, tapi cari pembeli siapa yang mau sewa siapa yang mau beli. Kalau ga ada yang mau, dia tutup pintu gorden, nyalain lampu, supaya kesannya ada orang,” bebernya.
Kata Ahok, dirinya tidak akan memberikan kelonggaran kepada para warga yang tinggal di jalur hijau maupun bantaran sungai.
Sebelumnya pada Selasa (26/5) malam sekitar pukul 22.00 WIB, ratusan warga yang rumahnya akan digusur mendatangi kediaman Ahok di Jakarta Utara.
Tak ada respon dari Ahok, keesokan paginya (Rabu 27/5) warga menggeruduk kantor Ahok di Balai Kota. Ahok memang menemui perwakilan warga tersebut, namun bukan solusi yang diberikan, Ahok justru ‘menyemprot’ warga tersebut karena mendatangi rumah pribadinya malam hari.
Artikel ini ditulis oleh:

















