Jakarta, Aktual.com – Untuk membuktikan pencak silat bisa menjadi sumber inspirasi bagi dunia seni rupa, terutama seni patung.

Ya, suatu niatan yang tidak bisa dibilang sederhana itu disodorkan perempuan bernama Rosalia Sciortino Sumaryono atau biasa disapa pendek saja, Lia, saat mengajak pematung di Indonesia untuk berkolaborasi ‘mematungkan’ gerak dari pencak silat.

Berawal dari niatan itu, jadilah pameran seni patung pencak silat bertemakan ‘Ekspresi Keindahan Rasa dan Bentuk Dalam Gerak Pencak Silat’ di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang diikuti 25 pematung pada 1-15 Agustus lalu.

Ditemui di sela pameran, perempuan berdarah Italia itu terang mengakui kecintaannya terhadap dunia pencak silat berawal dari kecintaannya terhadap sang suami, O’ong Maryono (alm). Yang tak lain merupakan pesilat yang sudah menorehkan berbagai prestasi semasa hidupnya. Antara lain, dua kali juara dunia pencak silat kelas bebas di tahun 1982 dan 1984.

Jodoh mempertemukan O’ong dengan Lia saat datang ke Indonesia sebagai antropolog budaya dan sosiolog pembangunan yang meraih gelar doktor ilmu sosial dengan penghargaan cum laude di Vrije Universiteit Amsterdam.

“Dia tampan, baik dan jago silat. Tentu saya mudah jatuh cinta¬†kepadanya,” tutur Lia dengan senyum terkulum saat mengenang awal pertemuannya dengan sang suami, kepada Aktual.com, Minggu (16/8).

Pertemuan Lia yang antropolog berlatar belakang budaya barat dengan O’ong pesilat yang kental dengan budaya Melayu, ternyata melahirkan ‘jurus-jurus’ baru yang tak mudah padam. Yakni keinginan untuk terus menghidupkan pencak silat. Pameran patung ini menjadi salah satu ‘jurus’ yang berhasil direalisasikan Lia.

Dia sepakat betul dengan pandangan mendiang suaminya, bahwa pencak silat merupakan gabungan gerakan olahraga, jurus beladiri dengan unsur seni, teknik pernapasan dan kesadaran spiritual.

Mengutip apa yang pernah ditulis sang suami di buku yang berjudul ‘Pencak Silat Merentang Waktu’ bahwa ‘secara paradoksal, kesatuan kaidah pencak silat justru terdiri dari inti yang sangat bervariasi, tergantung gerakan dan teknik dasar yang diutamakan dalam kombinasi tersebut.’

Atau dalam bahasa Lia, “Pencak silat haruslah dilihat sebagai bentuk budaya. Seperti teater misalnya, maka silat masuk dalam ruang seni.”

Lia pun menawari gagasan itu kepada pematung Dolorosa Sinaga. Entah lagi-lagi karena alasan cinta atau jodoh, gagasan membuat patung berdasarkan gerakan di pencak silat itu pun mendapatkan tanggapan antusias dari Dolorosa tanpa harus berbelit.

Lalu dimulailah proses ‘menularkan’ gagasan itu kepada pematung-pematung lain. Sampai akhirnya terkumpulah 25 pematung yang bersedia ikut terlibat dalam pameran kolaborasi itu.

Berderet 30 karya patung dari para perupa pun berhasil ditampilkan. Antara lain, patung berjudul ‘Sabuk Hitam’ karya AC Wicaksono, ‘Tarung’ karya Adhy Putraka.I, ‘Sapuan dan Gunting’ karya Artherio, ‘You Will Be In My Heart’ karya Cahyo Baskoro, ‘Tarian Silat’ karya Dolorosa Sinaga, dan ‘Hindaran Sempok Silat Pedang Bawean’ karya aIlham Rohadi yang juga merupakan seorang pesilat.

Ternyata, dalam prosesnya, pameran tak hanya jadi ajang pamer patung silat saja. Berduyun para pesilat yang mendengar kabar adanya pameran itu berdatangan. Kata Lia, mereka para pesilat berdatangan tanpa melalui prosedur yang rumit atawa hitung-hitungan biaya yang kaku.

“Mereka dibebaskan dan antusias untuk menggelar latihan silat selama pameran berlangsung secara sukarela. Buat saya ini membahagiakan sekali, membuat orang-orang yang datang untuk menikmati karya pematung sekaligus melihat langsung para pesilat dari berbagai perguruan unjuk kebolehan di sini,” ujar Lia.

Senang betul Lia mendapat respon positif dari para pematung, pesilat, dan tentunya khalayak luas di Jakarta yang datang ke pameran. Dari kabar yang didapat, lebih dari setengah patung yang dipamerkan pun laku terjual.

Lia mengatakan, 40 persen dari hasil penjualan karya di pameran ini penggunaannya tak jauh perginya ke pencak silat juga. Yakni untuk biayai Pencak Silat Award, sebuah lembaga yang didirikannya 20 Maret 2014, tepat setahun setelah sang suami O’ong Maryono meninggal.

Pencak Silat Award inilah yang merupakan ‘jurus’ Lia untuk terus menghidupi pencak silat sekaligus mengenang sang suami. Dengan lakukan program hibah untuk danai penelitian dan dokumentasi pencak silat. Sebab, kata Lia, O’ong percaya dokumentasi ilmiah perlu untuk mendukung pelestarian pencak silat.¬†“Sudah empat ‘grant’ kami berikan untuk proyek dokumentasi seperti itu,” ucap dia.

Harapan Lia dengan semua yang sudah dilakukannya pun tinggi. “Pencak silat harus dianggap sebagai sebuah kebudayaan dan bukan keangkuhan,” ujar dia. Ditambahkan dia, pencak silat juga harus terus hidup di generasi muda Indonesia. Semoga.

()