Jakarta, Aktual.co — Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menyatakan akan berkunjung ke Iran mempelajari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pada 22-24 Februari terkait akan dibangunnya PLTN skala kecil di Serpong, Banten.

“Teknologi nuklir Iran sudah cukup tinggi. Kami ingin tanyakan juga apa yang membuat pembangunan PLTN Iran diboikot, padahal puluhan negara lain menggunakan PLTN,” kata Menteri saat menerima kunjungan Masyarakat Penulis Iptek (Mapiptek) di Jakarta, Rabu (18/2).

Kunjungan ke Iran, juga terkait dengan digelarnya Konferensi Tingkat Menteri bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi negara-negara anggota Gerakan Non-Blok.

Indonesia, akan membangun PLTN skala laboratorium (Reaktor Daya Eksperimental/RDE) berkapasitas antara 10-40 MW di mana studi kelayakannya akan mulai dilakukan tahun ini dan diharapkan selesai akhir 2017.

“Segera setelah itu bisa dilakukan kondisioning, sehingga diharapkan RDE sudah bisa beroperasi 2021. Kami berharap dengan ini masyarakat akan bisa melihat sendiri keamanan PLTN dan menerima dengan antusias PLTN yang sebenarnya,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya PLTN dibangun di Indonesia, selain bersih bagi lingkungan, PLTN adalah solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik murah, massal dan andal.

Dengan menggunakan bahan bakar minyak, lanjut dia, biaya listrik per kwh mencapai 18 sen dolar, sedangkan batu bara 12 sen dolar yang jika memasukkan biaya lingkungan bisa lebih dari 18 sen dolar per kwh.

Sedangkan pilihan penggunaan energi terbarukan seperti geotermal mencapai 15 sen dolar, sedangkan air murah namun tidak bisa diandalkan karena sungai sudah semakin menyempit, ujarnya.

“Yang paling murah hanya nuklir sekitar 3,4 sen dolar per kwh, maksimal 6 sen. Meskipun investasi pembangkit besar, namun biaya bahan bakar per tahunnya murah karena Uranium 1 kg saja sudah bisa membangkitkan puluhan mega Watt selama setahun,” katanya.

Investasi RDE di Serpong, menurut dia, antara Rp1,6-1,8 triliun yang hasil listriknya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik internal.

Nasir juga membandingkan kapasitas listrik Indonesia dengan AS di mana AS yang berpenduduk 325 juta memiliki 100 PLTN dan lima lagi sedang dibangun, sementara Indonesia satu pun belum.

“Jadi 1 PLTN AS berkapasitas 1.000 MW untuk melistriki 3,25 juta penduduk, artinya satu orang AS mendapat alokasi listrik 35 ribu Watt, sementara Indonesia paling-paling 900 Watt,” katanya.

Ia mengatakan, PLTN sekarang ini sudah memasuki generasi keempat yang sangat aman, jadi jangan disamakan dengan PLTN di masa Chernobyl.

“Kalau PLTN tidak aman PLTN-PLTN di AS, di China di Eropa dan berbagai negara sudah ‘njebluk’ dari dulu-dulu,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka