Jakarta, Aktual.co — Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) mengampanyekan “Ayo Kita Makan Ikan” yang karena keprihatinan atas rendahnya konsumsi ikan masyarakat Indonesia.
“Padahal ikan sangat baik untuk kesehatan, mengandung protein hewani yang lebih tinggi dibandingkan daging ayam dan sapi,” kata Ketua Himpunan Alumni IPB, Bambang Hendroyono, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (5/11).
Ia menjelaskan kampanye itu akan berdampak pada banyak hal, yaitu mendorong peningkatkan pengetahuan masyarakat tentang ikan konsumsi, membuat peta ikan konsumsi unggulan, meningkatkan investasi sektor agribisnis sektor perikanan.
Selain itu, menggali potensi sumber daya sektor agribisnis sektor perikanan, menciptakan iklim kondusif bagi usaha agribisnis sektor perikanan, menciptakan peluang ekspor produk hasil perikanan, meningkatkan devisa negara melalui peran sektor usaha agribisnis sektor perikanan, dan membuka peluang lapangan kerja yang baru sektor perikanan.
Saat ini, katanya, potensi perikanan laut Indonesia berdasarkan angka statistik nasional berkisar 10,9 ton/tahun dan jumlah produksi ikan air tawar baru mencapai 9,7 juta ton setiap tahun.
Namun demikian, sambung dia, hasil perikanan yang potensial tersebut, belum diimbangi dengan tingkat konsumsi ikan oleh masyarakat Indonesia.
Jumlah penduduk Indonesia yang berada di peringkat keempat setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat, memiliki tingkat konsumsi ikan yang rendah.
Hal itu, berbeda jauh dengan orang Jepang sebagai bangsa yang mengonsumsi ikan terbanyak di dunia.
Padahal, sambungnya, ikan baik untuk kesehatan, mengandung protein hewani yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging ayam dan sapi.
Program itu, menurutnya, juga akan membantu pemerintah untuk meningkatkan kualitas kecerdasan masyarakat di Indonesia.
Ia mengungkapkan mengonsumsi ikan akan membantu meningkatkan kualitas kesehatan dan kualitas daya pikir manusia.
Berdasarkan penelitian IPB, kata dia, protein pada ikan tersusun atas asam amino esensial yang lengkap dan lebih mudah dicerna dibandingkan dengan protein dari sumber hewani lainnya.
Ia mengatakan protein merupakan sumber nutrisi penting untuk pertumbuhan. Komposisi lemak pada ikan didominasi oleh asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang (Poly Unsaturated Fatty Acid) dengan khasiat yang dahsyat.
Ia mengatakan omega 3 (atau disebut dengan asam linolenat) jenis EPA (Eicosa Pentaenoic Acid) dan DHA (Docosa Hexaenoic Acid) yang diagungkan sebagai primadona dalam daging ikan, tidak lain merupakan jenis dari PUFA.
Keduanya, katanya, merupakan asam lemak esensial yang artinya keberadaannya tidak bisa dibentuk sendiri oleh tubuh sehingga untuk mendapatkannya hanya lewat asupan makanan.
Jenis asam lemak itu, katanya, memiliki khasiat untuk membantu perkembangan otak dan menjadi stimulan positif dalam menguatkan daya ingat.
“Jadi, teori ikan versus kecerdasan, ternyata bukan sekadar isapan jempol,” katanya.
Menurut dia, DHA berperan penting dalam susunan jaringan otak sehingga dibutuhkan untuk pertumbuhan otak bayi. Secara alami, DHA hanya ada di dalam ASI dan ikan.
Oleh karena itu, katanya, kalau diperhatikan, banyak sekali produk susu atau makanan anak-anak yang mengunggulkan kandungan DHA sebagai salah satu cara untuk meningkatkan nilai jualnya agar memiliki kualitas sehebat ASI.
Keunggulan lain dari omega 3 pada ikan, katanya, berkaitan dengan penyakit degeneratif, seperti jantung dan hipertensi.
“Rutin mengonsumsi ikan, risiko terserang penyakit jantung koroner bisa ditekan,” katanya.
Ia menjelaskan di dalam tubuh, asam lemak tak jenuh akan diubah menjadi HDL atau kolesterol baik yang dapat menurunkan risiko penyempitan pembuluh darah di jantung.
Ketua Panitia “Ayo Kita Makan Ikan” Tjipta Purwita mengatakan dalam rangkaian kampanye akan diselenggarakan berbagai kegiatan penting, di antaranya pameran produk perikanan, festival kuliner masakan ikan, jalan dan sepeda santai, temu wicara, dan seminar.
Program yang diawali dengan peluncuran kampanye makan ikan pada 29-30 November 2014 di Parkir Timur Senayan Jakarta itu, diselenggarakan dalam rangka Hari Ikan Nasional (Harkannas).