Jakarta, Aktual.co — Pemerintah Indonesia dapat menurunkan angka penderita tuberkulosis (TB), penyakit menular yang mematikan, melalui perbaikan lingkungan dan perbaikan gizi, kata peneliti kesehatan Lukman Hakim Tarigan di Jakarta, Rabu (15/10).
“Pengalaman negara-negara lain menunjukkan bahwa sebelum obat TB ditemukan, angka penderita penyakit TB dapat diturunkan secara bermakna dengan perbaikan lingkungan (permukiman) dan perbaikan gizi,” ujar dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu.
Selain dapat dicegah, tambahnya, saat ini TB dapat disembuhkan dengan obat yang tersedia.
Di Indonesia obat untuk penyembuhan TB telah tersedia, dan disediakan secara cuma-cuma oleh Kementerian Kesehatan.
“Namun, sejauh ini penyakit TB masih menyebar di seluruh Indonesia, dan penderitanya banyak yang tidak terselamatkan” lanjutnya.
Lukman menambahkan Global TB memperkirakan sekitar 460.000 penyakit TB baru terjadi setiap tahun di Indonesia. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari empat negara penyumbang penyakit TB terbesar di dunia setelah India, Tiongkok dan Afrika Selatan.
Capaian keberhasilan pengobatan sekitar 90 persen dari yang berobat, dan penemuan kasus dini sekitar 82 persen belum efektif menurunkan kejadian penyakit TB di Indonesia.
Jumlah kasus baru yang tinggi, lanjutnya, ternyata terjadi setiap tahun di Indonesia, yang menunjukkan proses penyebaran atau infeksi masih terjadi pada masyarakat. Terjadinya proses infeksi ini tentunya tidak lepas dari kelemahan program pemerintah itu sendiri.
Bila angka perkiraan kejadian TB lebih kecil dari yang sebenarnya, menurut dia, akan ada sejumlah penyakit TB tidak terdeteksi (ditemukan) yang mengakibatkan jumlah penyakit TB yang tidak terobati juga meningkat.
Kasus-kasus seperti ini akan menjadi sumber penularan terselubung di masyarakat.
“Strategi dengan mengandalkan keberhasilan pengobatan berdasarkan penemuan kasus yang berbasis kepada perkiraan tentunya perlu ditinjau ulang karena angka tersebut dapat saja tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Memperhatikan kondisi itu, tampaknya pemerintah perlu melakukan evaluasi program yang dilaksanakan selama ini,” katanya.
Faktor lain yang dapat menyebabkan bertahannya jumlah penyakit TB di masyarakat adalah banyaknya penduduk tinggal di hunian yang padat yang berdampak kepada peningkatan proses penularan penyakit TB serta gizi yang buruk.
Gizi yang buruk menyebabkan daya tahan tubuh turun yang pada akhirnya mempermudah terjadinya penyakit TB.

()